Rabu, 30 September 2020 12:50

Analisis Pilkada Sulsel: Petahana Makassar, Torut dan Barru Berpotensi Tumbang

Ilustrasi
Ilustrasi

Untuk tiga petahana yang menghadapi tekanan kuat disebabkan oleh karena rivalnya yang menerapkan aksi sosialisasi sporadis di wilayah basis petahana dan juga memanfaatkan keuntungan dari kelemahan yang terjadi pada petahana di kesempatan terkahir ini.

MAKASSAR, PEDOMANMEDIA - Analis politik memberi beberapa gambaran mengenai peta pertarungan pilkada di 12 daerah di Sulsel. Tiga daerah, yakni Makassar, Toraja Utara dan Barru digambarkan menerima tekanan paling dalam, dan pasangan incumbent berpotensi tumbang.

"Tiga daerah ini paling kuat tekanannya terhadap incumbent. Incumbent menghadapi lawan sepadan," ujar Direktur Nurani Strategic Consulting Nurmal Idrus, kepada PEDOMANMEDIA, Rabu (30/9/2020).

Menurut Nurmal, dari 9 petahana di pilkada serentak di Sulsel rata-rata punya posisi yang kuat. Tapi kelihatannya hanya petahana Toraja Utara, Barru serta Makassar mendapat tekanan berat.

Ada dua petahana yang akan mudah menyelesaikan kontestasi yaitu Andi Kaswadi Razak di Soppeng dan Adnan Puritcha di Gowa. Petahana Thoriq Husler di Lutim terlihat masih sangat dominan demikian pula dengan Basli Ali di Selayar dan Indah Putri di Lutra.

Lalu, sejauh mana peluang mereka dalam mempertahankan kursi empuknya itu. Nurmal menjelaskan, tiga dari sembilan petahana itu menghadapi tekanan yang berat dari penantangnya. Sementara enam lainnya dianggap masih aman.

Ia menyebut tiga petahana harus bekerja ekstra keras karena perlawanan sengit dari pesaingnya.

"Pak Dani Pomanto di Makassar, Kalatiku Paembonan di Toraja Utara dan Suardi Saleh di Barru, berada pada posisi yang rawan sehingga wajib mengerahkan semua potensi kelebihannya untuk menunjang keterpilihannya," katanya.

Sementara itu, enam petahana lainnya yaitu Kaswadi Razak di Soppeng, Adnan Puritcha di Gowa, Thorig Husler di Lutim, Indah Putri di Lutra, Nico Biringkanae di Toraja dan Basli Ali di Selayar disebutnya relatif lebih aman.

"Di Soppeng dan Gowa sangat aman karena perlahan mulai bisa mengendalikan perlawanan kolom kosong. Sementara di di Lutim, Thorig Husler yang sebelumnya menghadapi tekanan berat dari mantan wakilnya kini perlahan mulai bangkit dengan program keliling desanya yang bagus. Begitupula IDP di Lutra yang diuntungkan oleh faktor melemahnya perlawanan dua paslon lawannya. Hal sama terjadi di Selayar dimana Basli Ali ternyata tak mengendorkan penetrasinya ke pemilih dengan kekuatan jaringannya," ujarnya.

Untuk tiga petahana yang menghadapi tekanan kuat, Mantan Ketua KPU Makassar ini menyebut disebabkan oleh karena rivalnya yang menerapkan aksi sosialisasi sporadis di wilayah basis petahana dan juga memanfaatkan keuntungan dari kelemahan yang terjadi pada petaha di kesempatan terkahir ini.

"Misalnya di Barru, Malkam dan Mudassir sukses memanfaatkan penggantian wakil Suardi yaitu Andi Mirza. Kedua Paslon berhasil menarik sebagian gerbong Andi Idris Syukur menyeberang ke mereka. Sementara di Makassar, kita bisa melihat betapa perlawanan tiga rival DP sangat sporadis baik dari sisi sosialisasi demikian pula aksi downgrade mereka terhadap DP," tambahnya.

Sementara di Torut, Kalatiku menghadapi "kuda hitam" Yohanis Bassang (Ombas). Ombas dinilai berpotensi menumbangkan Kalatiku.

Selain ditopang kekuatan finansial, Ombas juga memiliki pergerakan cukup masif dalam mendongkrak keterpilihannya.

Namun, tiga petahana yang menurutnya dalam posisi tertekan itu diakui Nurmal masih berposisi sebagai pemimpin persepsi pemilih hingga saat ini.

"Ketiganya tertekan tapi masih memimpin opini. Kita belum tahu apa yang akan terjadi hingga 9 Desember 2020. Namun, satu keuntungan petahana ini karena ketiganya menghadapi perlawanan dari dua dan tiga Paslon yang juga masing-masing bersaing untuk menang," tutupnya.

Editor : Muh. Syakir
#Pilkada Sulsel #Petahana #Pilkada 2020 #Incumbent Bisa Tumbang
Berikan Komentar Anda
Epaper
Cover Epaper
Populer