Rabu, 18 November 2020 11:00

Gawat! Ekonomi RI Butuh Rp 4.000 T Lebih untuk Pulih

Ilustrasi
Ilustrasi

Pertumbuhan ekonomi ada di angka minus 3,49%. Meski ada kenaikan dibanding kuartal kedua yang berada di angka minus 5%, namun ini tak menyelamatkan RI dari jurang resesi.

JAKARTA, PEDOMANMEDIA - Kontraksi ekonomi akibat pandemi mendorong Indonesia jatuh dalam resesi sejak akhir Oktober. Diprediksi, ekonomi nasional baru akan pulih pada 2021 dengan suntikan investasi yang cukup besar.

"Kalau pemulihan dengan target pertumbuhan ekonomi 6% butuh investasi hampir Rp 5.000 triliun. Dan itu baru kira kira dicapai pada 2024," terang Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia.

Dikutip detikcom, ia mengungkapkan agar tercapai pertumbuhan ekonomi 6% maka dibutuhkan investasi senilai Rp 4.983,2 triliun. Untuk mencapai target pada 2024, tahun ini realisasi investasi harus sebesar RP 817,2 triliun. Kemudian 2021 Rp 858,5 triliun, pada 2022 Rp 968,4 triliun, 2023 Rp 1.088,8 triliun dan 2024 Rp 1.239,3 triliun.

Baca Juga

Kata Bahlil, target bisa sampai pada tahap itu jika ditopang oleh berbagai komponen. Mulai dari regulasi, kelunakan investasi, pelayanan perizinan sampai iklim birokrasi. Semua itu menjadi komponen penting agar angka pemulihan ekonomi di 2024 lebih progresif.

"Kita harus bisa membuka akses dan memberi kelunakan investasi. Juga menjaga regulasi agar lebih berpihak pada dunia usaha," katanya.

Indonesia resmi jatuh dalam resesi pada awal November. Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan angka pertumbuhan ekonomi kuartal 3 yang masih terkontraksi di level negatif.

Pertumbuhan ekonomi ada di angka minus 3,49%. Meski ada kenaikan dibanding kuartal kedua yang berada di angka minus 5%, namun ini tak menyelamatkan RI dari jurang resesi.

Resesi adalah perlambatan ekonomi yang mendorong turunnya daya beli dan konsumsi masyarakat. Resesi ditandai dengan pertumbuhan ekonomi minus dalam dua kwartal berturut-turut. Pada kuartal 2 2020, pertumbuhan ekonomi RI minus 5,32%.

Sehari sebelumnya ekonomi RI sudah memperkirakan masih di angka minus pada kuartal 3, dan akan memicu resesi makin dalam. Jika sampai Maret 2021 Indonesia belum lepas dari resesi, gejolak ekonomi pasti terjadi.

Pengamat ekonomi Sjamsul Ridjal melihat, kontraksi akan lebih kuat di akhir tahun dan resesi bisa memuncak pada 2021. Jika tak ada upaya pemulihan yang lebih cepat maka daya beli akan menurun sangat tajam.

"Bisa bisa nanti masyarakat untuk beli cabe pun susah. Mungkin uang ada tapi masyarakat memilih menyimpan. Ini kondisi psikologis yang akan terjadi saat ekonomi terpuruk," kata Sjamsul.

Sjamsul menjelaskan, stimulus yang digulirkan pemerintah hanya sedikit menolong menaikkan konsumsi. Tak bisa secara komprehensif. Karena kata dia, terjadi kekhawatiran akan memburuknya situasi jika pandemi tak juga berakhir di 2021.

"Isu pandemi ini paling merusak konstruksi ekonomi kita. Kalau isu itu terus pasti akan lebih buruk. Apalagi di Eropa pandemi digambarkan begitu mengerikan," katanya.

Selanjutnya ia juga menyoroti isu UU Omnibus Law dan kenaikan UMP. Dua isu ini menurut Sjamsul menimbulkan kontraksi buruk pada dunia usaha.

Sjamsul memperkirakan, 2021 akan terjadi gejolak ketenagakerjaan karena perusahaan gagal kinerja. Dampak terburuknya adalah PHK massal.

Editor : Muh. Syakir
#Resesi #Pertumbuhan Ekonomi
Berikan Komentar Anda
Epaper
Cover Epaper
Populer