Sabtu, 21 November 2020 06:51

Sekolah Dibuka Januari 2021, Jika Muncul Klaster Baru Harus Ditutup Kembali

Ilustrasi
Ilustrasi

Pengawasan protkes di sekolah dan tempat-tempat umum berbeda. Di sekolah, pengawasan mudah luput saat jam istirahat. Di mana di waktu-waktu itu volume interaksi antarsiswa terjadi lebih sering.

JAKARTA, PEDOMANMEDIA - Pemerintah memutuskan pembelajaran tatap muka diuji coba pada Januari 2021. Kebijakan ini disambut baik, namun kekhawatiran munculnya klaster baru tetap menjadi perhatian.

"Seluruh protkes yang ditetapkan Kemendikbud pada prinsipnya sudah cukup ideal. Hanya saja bagaimana pengawasannya, itu yang mesti diperhatikan nanti," ujar Ibrahim Suaib, pemerhati pendidikan, Jumat (20/11/2020).

Menurut Ibrahim, pengawasan protkes di sekolah dan tempat-tempat umum berbeda. Di sekolah, pengawasan mudah luput saat jam istirahat. Di mana di waktu-waktu itu volume interaksi antarsiswa terjadi lebih sering.

Baca Juga

Karenanya kata Ibrahim, di bagian itu harus ada formulasi ketat agar tidak ada interaksi antarsiswa yang rawan menimbulkan kerumunan. Salah satunya kata Ibrahim, jam istirahat tak boleh terlalu lama. Begitu juga fasilitas yang biasanya menjadk tempat berkumpul siswa harus ditutup.

"Seperti kantin misalnya ya harus tutup. Karena itu bisa menciptakan kerumunan," jelasnya.

Ibrahim juga mengingatkan bahwa sekolah rentan menjadi sarana penularan. Jika nanti ada kasus baru yang muncul, uji coba pembelajaran tatap muka

harus siap dihentikan.

"Jangan sampai memunculkan klaster baru. Ini diwanti wanti sejak awal," kata Ibrahim.

Pembelajaran tata muka berdasarkan keputusan Kemendikbud akan diikuti oleh beberapa ketentuan baru protokol kesehatan yang ketat. Menteri Nadiem Makarin mengatakan, pengawasan prokes di sekolah menerapkan proteksi ketat.

Nadiem menegaskan sekolah akan menerapkan protkes baru. Mulai dari jarak bangku sampai aturan standar masker yang dipakai siswa. Juga tak boleh ada kerumunan.

Beberapa ketentuan dalam pembelajaran tatap muka antara lain menerapkan jarak bangku antarsiswa di kelas minimal 1,5 meter. Jumlah siswa juga dikurangi berdasarkan jenjang.

PAUD ditetapkan 5 anak didik per kelas dari standar 15 peserta didik. Pendidikan dasar dan menengah 18 orang per kelas dari standar 36 peserta didik. Lalu SLB 5 orang dari standar 8 peserta didik.

Sistem pembelajaran bergiliran atau shifting ditentukan oleh masing-masing satuan pendidikan. Wajib pakai masker. Di antaranya masker kain 3 lapis dan masker bedah sekali pakai.

Cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir. Opsi lain menggunakan hand sanitizer. Tidak melakukan kontak fisik

dan menerapkan etika batuk/bersin.

Adapun kondisi fisik yang perlu diperhatikan saat sekolah kembali tatap muka adalah sebagai berikut. Sehat dan jika mengidap komorbid harus dalam kondisi terkontrol. Tidak memiliki gejala COVID-19 termasuk pada orang yang serumah dengan warga sekolah. Kantin juga tidak diperbolehkan buka.

Olahraga dan ekstrakurikuler tidak diperbolehkan. Pembelajaran di luar lingkungan sekolah diperbolehkan dengan protokol kesehatan.

Editor : Muh. Syakir
#Pembelajaran Tatap Muka #Kemendikbud #Mendikbud Nadiem Makarin
Berikan Komentar Anda