Sabtu, 21 November 2020 07:48

KPAI Ragukan Nadiem: Kalau tak Siap Jangan Paksakan Buka Sekolah

Ilustrasi
Ilustrasi

Yang paling urgen adalah kesiapan infrastruktur. Di mana sarana belajar memang sudah harus siap menerapkan protokol kesehatan ketat. Kalau seluruh perangkat yang dibutuhkan itu tak dipastikan efektif, maka harus dikaji ulang.

JAKARTA, PEDOMANMEDIA - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meragukan kesiapan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam menerapkan SOP ketat saat sekolah dibuka nanti. KPAI menyebut ada risiko besar pada anak jika perangkat itu bekerja baik.

"Saya kira pemerintah harus mempertimbangkan banyak hal. Terutama keselamatan siswa. Apakah SOP sudah dipastikan bisa diterapkan dengan baik atau tidak. Kalau memang belum siap saya pikir jangan dipaksakan," jelas Komisioner KPAI Retno Listyarti, Jumat (20/11/2020).

Menurut Retno, yang paling urgen adalah kesiapan infrastruktur. Di mana sarana belajar memang sudah harus siap menerapkan protokol kesehatan ketat. Kalau seluruh perangkat yang dibutuhkan itu tak dipastikan efektif, maka harus dikaji ulang.

Baca Juga

Retno mengatakan, target Kemendikbud tak boleh sekadar memburu ketertinggalan kurikulum. Tapi juga keselamatan siswa dan berjalannya prokes di sekolah.

KPAI juga mendorong dilakukannya tes swab bagi seluruh perangkat di sekolah sebelum pembelajaran tatap muka dimulai. Namun ini harus didukung oleh alokasi anggaran yang cukup.

Pada Oktober simulasi belajar tatap muka di beberapa daerah diklaim berjalan cukup baik. Sementara di Sulsel, Gubernur Nurdin Abdullah memilih menunda menerapkan uji coba itu waktu.

"Untuk belajar tatap muka masih harus dipertimbangkan sisi baik buruknya. Pertimbangan utamanya adalah apakah siswa bisa menerapkan protokol kesehatan dengan baik atau tidak," ujar NA.

Menurut NA, sekolah bisa menjadi klaster baru jika penerapan protap kesehatan tak berjalan baik. Sistem pengawasan itulah yang harus dipastikan sebelum uji coba pembelajaran tatap muka.

NA menjelaskan, kasus Corona di Sulsel terus melandai. Di beberapa daerah, rasio penyebaran bisa ditekan. Ritme ini membaik dari waktu ke waktu dan harus dipertahankan dengan tetap mendisiplinkan masyarakat.

Data Oktober lalu menyebutkan angka kematian di Indonesia lebih tinggi dari angka rata-rata dunia. Indonesia mencapai 3,77 persen dan rata-rata kasus kematian Corona di dunia 3,01 persen.

Kasus aktif Corona di Indonesia menyentuh angka 22,46 persen. Angka ini lebih rendah dari rata-rata dunia 23,13 persen.

Editor : Muh. Syakir
#Pembelajaran Tatap Muka #Protokol Kesehatan #Mendikbud Nadiem Makarin #Nurdin Abdullah
Berikan Komentar Anda