Minggu, 22 November 2020 06:44

Soal Ekonomi RI Butuh Rp 4.000 T untuk Pulih, Sulit Dalam 5 Tahun

Ilustrasi
Ilustrasi

Investasi di Indonesia baru bisa terbuka pada 2022. Kemudian akan kembali tertahan pada 2024 saat menjelang pilpres sampai 2025.

JAKARTA, PEDOMANMEDIA - Ekonomi nasional diprediksi bisa pulih jika mendapatkan suntikan investasi sampai Rp 4.000 triliun. Angka ini dinilai mustahil bisa dicapai dalam kurun 5 tahun mendatang.

"Akan menjadi untuk mendorong investasi sebesar itu dalam 5 tahun. Karena situasi ekonomi dunia juga sedang guncang. Investasi global melambat sampai akhir 2021," jelas Maman Suhardiman, pengamat ekonomi nasional, Ahad (22/11/2020).

Menurutnya, investasi di Indonesia baru bisa terbuka pada 2022. Kemudian akan kembali tertahan pada 2024 saat menjelang pilpres.

Baca Juga

Maman mengemukakan, realitasnya, pilpres selalu menjadi sandungan dalam membuka keran investasi. Sebab kepercayaan dunia usaha menurun di masa masa transisi kepemimpinan.

"Dunia usaha dan investor biasanya menahan sampai ada presiden terpilih. Tentu mereka melihat apakah pemimpin baru ini punya gagasan ekonomi yang progresif atau tidak. Itu akan menentukan iklim investasi tanah air," papar Maman.

Setelah 2024 barulah investasi akan mulai tumbuh dan mencapai masa tertinggi pada 2025. Artinya kata Maman, butuh 5 tahun dari sekarang untuk menarik investasi secara optimal.

Sebelumnya Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan agar tercapai pertumbuhan ekonomi 6% maka dibutuhkan investasi senilai Rp 4.983,2 triliun. Untuk mencapai target pada 2024, tahun ini realisasi investasi harus sebesar RP 817,2 triliun. Kemudian 2021 Rp 858,5 triliun, pada 2022 Rp 968,4 triliun, 2023 Rp 1.088,8 triliun dan 2024 Rp 1.239,3 triliun.

Kata Bahlil, target bisa sampai pada tahap itu jika ditopang oleh berbagai komponen. Mulai dari regulasi, kelunakan investasi, pelayanan perizinan sampai iklim birokrasi. Semua itu menjadi komponen penting agar angka pemulihan ekonomi di 2024 lebih progresif.

"Kita harus bisa membuka akses dan memberi kelunakan investasi. Juga menjaga regulasi agar lebih berpihak pada dunia usaha," katanya.

Indonesia resmi jatuh dalam resesi pada awal November. Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan angka pertumbuhan ekonomi kuartal 3 yang masih terkontraksi di level negatif.

Pertumbuhan ekonomi ada di angka minus 3,49%. Meski ada kenaikan dibanding kuartal kedua yang berada di angka minus 5%, namun ini tak menyelamatkan RI dari jurang resesi.

Resesi adalah perlambatan ekonomi yang mendorong turunnya daya beli dan konsumsi masyarakat. Resesi ditandai dengan pertumbuhan ekonomi minus dalam dua kwartal berturut-turut. Pada kuartal 2 2020, pertumbuhan ekonomi RI minus 5,32%.

Sehari sebelumnya ekonomi RI sudah memperkirakan masih di angka minus pada kuartal 3, dan akan memicu resesi makin dalam. Jika sampai Maret 2021 Indonesia belum lepas dari resesi, gejolak ekonomi pasti terjadi.

Pengamat ekonomi Sjamsul Ridjal melihat, kontraksi akan lebih kuat di akhir tahun dan resesi bisa memuncak pada 2021. Jika tak ada upaya pemulihan yang lebih cepat maka daya beli akan menurun sangat tajam.

"Bisa bisa nanti masyarakat untuk beli cabe pun susah. Mungkin uang ada tapi masyarakat memilih menyimpan. Ini kondisi psikologis yang akan terjadi saat ekonomi terpuruk," kata Sjamsul.

Sjamsul menjelaskan, stimulus yang digulirkan pemerintah hanya sedikit menolong menaikkan konsumsi. Tak bisa secara komprehensif. Karena kata dia, terjadi kekhawatiran akan memburuknya situasi jika pandemi tak juga berakhir di 2021.

"Isu pandemi ini paling merusak konstruksi ekonomi kita. Kalau isu itu terus pasti akan lebih buruk. Apalagi di Eropa pandemi digambarkan begitu mengerikan," katanya.

Selanjutnya ia juga menyoroti isu UU Omnibus Law dan kenaikan UMP. Dua isu ini menurut Sjamsul menimbulkan kontraksi buruk pada dunia usaha.

Sjamsul memperkirakan, 2021 akan terjadi gejolak ketenagakerjaan karena perusahaan gagal kinerja. Dampak terburuknya adalah PHK massal.

Editor : Muh. Syakir
#Investasi #Ekonomi RI
Berikan Komentar Anda