Muh. Syakir : Sabtu, 20 Agustus 2022 17:25
Mahasiswa menuntut Bupati Boven Digoel menemui mereka untuk membicarakan kucuran dana pendidikan.

JAYAPURA, PEDOMANMEDIA - Himpunan Mahasiswa Pelajar Boven Digoel (HMP-BD) se-Jayapura menyesalkan sikap Bupati Boven Digoel yang tidak merespons tuntutan mahasiswa terkait permintaan bantuan dana pendidikan. Bupati dinilai tidak berempati terhadap kondisi para mahasiswa.

Mereka sedianya bertemu bupati pada Jumat kemarin (19/8/2022). Namun pertemuan itu batal.

"Kami datang membawa data 250 mahasiswa yang saat ini berada di akhir semester. Kami berharap ada bantuan dana studi bagi mahasiswa ini. Tapi kami kecewa karena bupati terkesan menghindar," ujar Ketua Umum HMP BD Bave Valenditi Eperi kepada PEDOMANMEDIA, Sabtu (20/8/2022).

Menurut Bave, mereka datang ke pemkab bersama beberapa elemen. Di antaranya

empat basis sukuan yaitu Sekretaris Himpunan Mahasiswa/I Pelajar Mandobo Boven digoel (HMP-BD), Ketua Rumpun Pelajar Mahasiswa/i Muyu- Boven Digoel (RPMM-BD), Ketua Himpunan Mahasiswa Awyu Boven Digoel (HIMAPEAU-BD) dan beberapa lembaga lainnya.

Mereka datang dengan satu agenda. Menyerahkan data 250 mahasiswa yang sekarang tengah di akhir semester dan membutuhkan bantuan pendidikan. Pasalnya kata Bave, dana pendidikan dari pemda belum kucur hingga sekarang.

"Ada keterlambatan pencairan bantuan studi dari Pemkab Boven Digoel. Sementara banyak mahasiswa yang tahun ini mau selesai. Mereka sudah banyak yang terpaksa cuti karena kekurangan biaya," jelanya.

Bave menceritakan perjalanan mereka menuju ke Boven Digoel. Menurutnya, mereka sempat dipingpong pihak protokoler pemda.

"Kami kontak protokoler bupati berinisial DW untuk kami punya tempat tinggal namun beliau sampaikan bahwa sedang mengurus orang meninggal. Sehingga kami tunggu di depan bandara Tanah Merah. Karena tidak ada jawaban yang pasti, kami langsung menuju ke kediaman Bupati Boven Digoel. Setelah sampai di sana kami diarahkan ke pak sekda melalui protokoler. kami cek protokoler dan beliau sampaikan sementara di kantor Bupati," ujarnya.

Mereka lalu ke kantor Bupati Kabupaten Boven Digoel untuk ketemu Sekda Pilemon Tabuni. Namun Sekda yang ditemui justru menunjuk protokoler bupati untuk menyelesaikannya.

"Pada jam 20.30 protokoler bupati arahkan kita ke salah satu warung. Setelah kami makan, langsung diarahkan untuk pulang. Namun kami tidak menerima karena kami harus ketemu Bupati," ucapnya kecewa.

Besoknya mereka kembali ke rumah jabatan untuk bertemu bupati. Namun usaha itu kembali gagal. Menurut Bave, bupati sengaja menghindari pertemuan dengan mereka.

"Kami simpulkan bahwa bupati memang sengaja menghindari pertemuan dengan kami. Pemda Boven Digoel kurang respons dalam menanggapi persoalan sumber daya manusia. Harapan kami mahasiswa adalah beliau segera bertemu dengan kami atau kalau tidak harus ada pejabat yang diarahkan untuk kami bisa bertemu dan menyampaikan keluhan kami," ucapnya.

Bave menegaskan, jika pemda tidak menunjukkan itikad baik, mereka akan melakukan aksi besar-besaran.

"Kami akan konsolidasi secara besar-besaran mengarah ke aksi. Bukan hanya di kota Tanah Merah, Kabupaten Boven Digoel, tetapi juga di beberapa kota studi yang ada terlebih khusus Kota studi Jayapura," ucapnya.

Penulis: Emanuel H Boga