Muh. Syakir : Jumat, 28 Oktober 2022 14:10
Festival bahasa daerah yang digelar Disdik Tator.

TATOR, PEDOMANMEDIA – Dinas Pendidikan Tana Toraja menggelar Festival Bahasa Daerah tingkat SD dan SMP. Kegiatan ini sebagai upaya revitalisasi untuk menjaga bahasa daerah dari kepunahan.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tana Toraja Andarias Lebang mengatakan, revitalisasi bahasa adalah bagian dari Program Merdeka Belajar. Kata dia, banyak bahasa daerah di Indonesia yang berangsur punah.

"Dari 718 bahasa yang ke depannya akan punah dan kritis, sehingga ini merupakan salah satu terobosan yang dilakukan. Ini dijadikan kebijakan dalam kurikulum merdeka belajar,” beber Andarias.

Andarias mengatakan, kegiatan ini dilakukan di beberapa provinsi di seluruh Indonesia. Kegiatan ini telah dilaksanakan di 19 kecamatan dan juara-juara yang ada di kecamatan itu melakukan lagi kegiatan di tingkat kabupaten, dan juara-juara di tingkat kabupaten akan lanjut ke tingkat provinsi.

“Lomba yang dilombakan dalam kegiatan festival Bahasa Ibu ini adalah, lomba baca puisi, pidato dan mendongeng untuk putra dan putri,” ungkap Andarias.

Ia mengemukakan, Festival Bahasa Daerah dilakukan untuk menjaga sehingga bahasa ibu di daerah itu tidak punah. Menurutnya, ini adalah terobosan bagus untuk kelestarian bahasa daerah.

“Harapan kami ke depan supaya kegiatan ini berlanjut setiap tahunnya dan kami bersyukur bahwa di Kabupaten Tana Toraja, termasuk di Sulawesi Selatan ini adalah merupakan kegiatan yang kedua kalinya," paparnya.

Tahun 2021 ada tiga provinsi yang menjadi percontohan untuk revitalisasi bahasa. Selanjutnya pada 2022 bertambah menjadi 13 provinsi.

Sementara di 2023 nanti diproyeksikan bertambah 17 provinsi. Sehingga di tahun 2024 dipastikan semua provinsi sudah bisa melaksanakan revitalisasi bahasa Daerah.

Yunus Sirante selaku Asisten Ekonomi dan Pembangunan Kabupaten Tana Toraja, mengatakan revitalisasi bahasa adalah bagian dari program Pemerintah yang secara struktural menyentuh semua daerah. Di Sulawesi Selatan sendiri ada 3 bahasa yang masuk dalam proyeksi. Yakni, bahasa Toraja, Bugis dan Makassar.

“Harapan saya melalui festival ini kita bisa melestarikan dan kita harus mengantisipasi kepunahan. Ini akan kita tindak lanjuti di perguruan tinggi yang ada di sini supaya bisa dibuka satu prodi khusus bahasa Toraja, dan saya yakin dan percaya itu bahasa Toraja kita mengandung makna yang mendalam sebagai bagian kearifan lokal,” pungkasnya.

Penulis: Nober Salamba