1,2 Juta Sinovac yang Tiba Harus Diuji BPOM, Vaksinasi Massal Ditunda
Presiden Jokowi mengatakan akan ada sekitar 1,8 dosis lagi yang akan tiba pada awal Januari 2021. Jokowi menyampaikan pemerintah juga akan mendatangkan bahan baku vaksin yang masih mentah.
JAKARTA, PEDOMANMEDIA - Vaksinasi massal akan ditunda sampai BPOM menyelesaikan hasil kajian mengenai kelayakan vaksin Corona Sinovac yang tiba di Tanah Air, Ahad lalu. DPR meminta agar vaksin dipastikan benar benar aman sebelum digunakan.
"Harus ada kajian dulu dari BPOM bahwa vaksin layak dan aman. Lebih baik menunda vaksinasi daripada terburu buru tapi hasilnya memberi risiko," ujar Wakil Ketua Umum Gerindra Putih Sari.
Vaksin Sinovac ini tiba di Indonesia pada Minggu (6/12) melalui Bandara Soekarno-Hatta sekitar pukul 21.30 WIB. Vaksin Sinovac ini sudah melalui tahap uji klinis di Bandung, Jawa Barat.
Presiden Jokowi mengatakan akan ada sekitar 1,8 dosis lagi yang akan tiba pada awal Januari 2021. Jokowi menyampaikan pemerintah juga akan mendatangkan bahan baku vaksin yang masih mentah.
Diperkirakan bahan baku curah itu tiba di RI pada pertengahan bulan ini sebanyak 15 juta, dan Januari 2021 sebanyak 30 juta.
Vaksin Sinovac yang sudah tiba di Indonesia itu belum bisa langsung di distribusikan. Jokowi mengatakan vaksin yang tiba harus melalui tahapan di BPOM sebelum dilakukan vaksinasi.
"Untuk memulai vaksinasi masih memerlukan tahapan-tahapan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM)," kata Jokowi.
Ada beberapa tahap prosedur yang harus diikuti sebelum dimulainya vaksinasi. Pertama pentingnya menjaga kesehatan dan keselamatan masyarakat serta efektivitas vaksin hingga hasil uji klinis tahap III vaksin tersebut.
"Pertimbangan ilmiah, hasil uji klinis ini akan menentukan kapan vaksinasi bisa dimulai," jelas Jokowi.
Sementara, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menambahkan tenaga kesehatan akan mendapatkan vaksin itu terlebih dahulu. Terawan menjelaskan Kemenkes telah menyiapkan data sasaran per kabupaten/kota.
"Untuk vaksin kiriman pertama ini yang pertama akan mendapat sasaran adalah tenaga kesehatan, asisten tenaga kesehatan, tenaga penunjang, yang bekerja pada fasilitas-fasilitas pelayanan kesehatan," ujar Terawan melalui siaran live streaming lewat kanal YouTube Kemkominfo TV, Senin (7/12/2020) dikutip detikcom.
Wakil Ketua Umum Gerindra Putih Sari meminta Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengevaluasi vaksin Sinovac yang baru tiba tersebut secara ketat. Hal itu agar khasiat hingga keamanan vaksin tersebut teruji.
"Saya mendorong BPOM untuk secara ketat mengevaluasi vaksin tersebut dan memberikan keterangan yang jelas terkait khaisat, mutu dan keamanannya," ujar Putih kepada wartawan, Senin (7/12/2020).
Menurut Putih, vaksin Sinovac yang baru tiba di Tanah Air tidak langsung diedarkan ke masyarakat. Sebab, vaksin itu harus dievaluasi oleh BPOM.
"Menurut infonya, vaksin yang baru sampai tidak langsung digunakan karena BPOM belum mengeluarkan EUA (Emergency Use Authorisation) vaksin sehingga tetap harus menunggu evaluasi BPOM," ucapnya.
PAN juga turut meminta agar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tidak terburu-buru memberikan izin terhadap vaksin tersebut. Pemintaan itu disampaikan Ketua DPP PAN Saleh Partaonan Daulay.
"BPOM tidak usah terburu-buru dalam memberikan izin. Silahkan manfaatkan waktu yang tersedia sebelum memberikan keputusan," ujar Saleh kepada wartawan, Senin (7/12)
Anggota Komisi IX DPR RI ini menilai vaksin yang sudah tiba perlu dikaji secara mendalam. Hal ini dimaksudkan guna menjaga efektivitas dan keamanan vaksin Corona.
"Menurut saya, harus diteliti dan dikaji secara mendalam. Ini penting agar efektivitas dan keamanannya terjamin. Masih cukup waktu untuk melakukan itu. Negara-negara lain pun kelihatannya tidak ada yang terburu-buru," ucapnya.
Saleh juga mendorong pemerintah dapat mendistribusikan vaksin secara adil ke setiap daerah di Indonesia. Ia juga menekankan pentingnya distribusi vaksin agar dilakukan secara aman.
- 1
- 2
- 3
- 4
- 5
