Senin, 26 Desember 2022 20:20

Jokowi Renggang dengan NasDem, tapi Dilematis Depak SYL dari Kabinet

Joko Widodo
Joko Widodo

Juanda yakin Jokowi akan berhitung-hitung untuk mereshuffle dalam waktu dekat.

JAKARTA, PEDOMANMEDIA - Presiden Joko Widodo disebut tak lagi sreg dengan Partai NasDem usai mendeklarasikan Anies Baswedan sebagai capres. Tapi untuk mendepak Syahrul Yasin Limpo dari kabinet, Jokowi dilematis.

"Saya kira memang Jokowi mulai renggang dengan NasDem. Tapi dilematis kalau SYL yang harus dikorbankan. Tentu ini akan ditimbang Jokowi," ujar analis politik, Juanda H Alim, Senin (26/12/2022).

Menurut Juanda, ada beberapa faktor yang memungkinkan Jokowi tak mereshuffle SYL sebagai salah satu menteri NasDem. Pertama, SYL adalah representasi Indonesia timur.

Baca Juga

Kedua, secara politis, Jokowi punya kepentingan pada SYL menuju 2024. Dan ketiga, jika mendepak SYL, Jokowi bisa membuat hubungannya dengan NasDem kian runyam.

"Apalagi ini kan belum fix soal Anies. Koalisi NasDem masih abu abu. Bukan tidak mungkin semua bisa berubah," kata Juanda.

Juanda yakin Jokowi akan berhitung-hitung untuk mereshuffle dalam waktu dekat.

"Jokowi akan menunggu sampai Anies fix jadi capres NasDem. Kalau benar, di sana nanti baru dia putuskan reshuffle," ucapnya.

Senada Juanda, Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI) Djayadi Hanan melihat, Jokowi tampak kurang senang dengan langkah Nasdem mendeklarasikan Anies Baswedan sebagai calon presiden.

Selain itu, Nasdem juga mungkin berkoalisi dengan partai oposisi pemerintah, PKS dan Demokrat. Sementara itu, PDI Perjuangan sempat menyatakan tidak akan bisa bersatu dengan dua partai tersebut, PKS dan Demokrat.

“Saya kira ada pada peluang itu (reshuffle),” kata Djayadi saat dihubungi Kompas.com, Senin (26/12/2022).

Meski demikian, Jokowi dianggap sulit mencari alasan yang bisa diterima publik untuk bisa mengeluarkan Nasdem dari jajaran menteri.

Djayadi menuturkan, untuk mendepak Nasdem dari Kabinet Indonesia Maju, Jokowi harus memiliki alasan yang obyektif.

Menurutnya, jika menggunakan alasan bahwa menteri dari Nasdem dievaluasi karena kinerja mereka yang buruk, semestinya pengganti kedua menteri itu juga berasal dari partai yang sama.

“Tapi tampaknya yang dimaksud itu adalah mendepak Nasdem ya kan dari kabinet,” ujar Djayadi.

Djayadi lantas mempertanyakan kesalahan langkah politik yang dipilih Nasdem sehingga mereka berpotensi didepak. Menurutnya, tidak ada yang salah dengan keputusan Nasdem mencalonkan Anies sebagai calon presiden.

Setiap partai, kata dia, memiliki aspirasi tersendiri untuk mengusung jagoannya pada Pemilu mendatang. Djayadi mengatakan, mereka tetap berhak memilih langkah tersebut meski harus berbeda dengan keinginan Jokowi. Di sisi lain, Nasdem juga masih berada di dalam tubuh koalisi Jokowi.

“Jadi kalau mau mendepak Nasdem harus dicari alasan apa salahnya Nasdem. Nah salahnya Nasdem adalah dia mendeklarasikan Anies. Yang kedua karena bakal berkoalisi dengan partai yang dianggap tidak sejalan dengan pemerintahan Jokowi, oposisi. Tapi alasan itu bisa dipertanyakan orang,” tuturnya.

“Jadi susah mencari alasan,” sambung Djayadi.

Syahrul dan Siti Nurbaya merupakan dua dari tiga kader Nasdem yang saat ini duduk kabinet. Selain keduanya, kader Partai Nasdem yang duduk di kabinet adalah Johnny G Plate sebagai Menteri Komunikasi dan Informatika.

Djarot mengatakan, kinerja para menteri harus terus dievaluasi agar menteri yang duduk di kabinet benar-benar bekerja menuntaskan janji-janji kampanye Jokowi.

"Mentan dievaluasi, Menhut dievaluasi, Menteri Kehutanan ya, harus dievaluasi, semua menteri juga harus dievaluasi. Supaya apa, supaya ada satu darah baru yang segar, yang bisa mendukung penuh kebijakan Pak Jokowi," kata Djarot di kawasan Menteng, Jakarta, Jumat (23/12/2022).

 

Editor : Muh. Syakir
#Reshuffle Kabinet #Partai Nasdem #Syahrul Yasin Limpo
Berikan Komentar Anda
Epaper
Cover Epaper
Populer