Selasa, 21 Maret 2023 10:41

Sri Mulyani Beberkan Temuan 2 Transaksi Aneh, Ada yang Mainkan SPT Hingga Triliunan

Sri Mulyani Indrawati
Sri Mulyani Indrawati

DY melapor dalam SPT hartanya Rp 38 miliar, namun hasil penelusuran PPATK menemukan orang yang sama punya transaksi sampai Rp8 triliun.

JAKARTA, PEDOMANMEDIA - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati membeberkan, pihaknya menemukan transaksi dalam jumlah fantastis pada dua wajib pajak. Nilai transaksinya disebut mencapai Rp8 triliun lebih.

Hal ini diketahui dari data yang disampaikan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) ke Kementerian Keuangan dan Direktorat Jenderal Pajak. Dalam data tersebut dia mengungkapkan ada seseorang berinisial SB yang disebut memiliki transaksi hingga Rp 8,2 triliun.

"Satu, figurnya pake inisial SB. Ini di dalam data PPATK disebutkan omzetnya mencapai Rp 8,247 triliun. Data dari SPT pajak adalah Rp 9,68 triliun, lebih besar di pajak daripada yang diberikan oleh PPATK," ujar Sri Mulyani dalam konferensi pers di Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat, dikutip detikcom, Selasa (22/3/2023).

Baca Juga

Orang tersebut disebut memiliki saham di perusahaan dengan inisial PT BSI. Aliran dana ini diketahui juga dalam data PPATK.

"Kita teliti PT BSI yang ada di dalam surat PPATK juga, PT BSI ini data PPATK menunjukkan Rp 11,77 triliun. SPT Pajaknya menunjukkan Rp 11,56 triliun. Ada perbedaan Rp 200-an miliar itu pun dikejar. Kalau buktinya nyata perusahaan itu akan didenda 100%," ujar Sri Mulyani.

SB juga punya transaksi ke perusahaan lain berinisial PT IKS. Selama periode 2018-2019, data PPATK menunjukkan transaksinya mencapai Rp 4,8 triliun sementara SPT perusahaan tersebut hanya melaporkan sejumlah Rp 3,5 triliun.

Selain SB, Sri Mulyani juga menyatakan pihaknya menemukan ada pihak yang berinisial DY juga memiliki transaksi jumbo. DY melapor dalam SPT hartanya Rp 38 miliar, namun hasil penelusuran PPATK menemukan orang yang sama punya transaksi sampai Rp8 triliun.

Sri Mulyani bilang pihaknya sudah memakai data-data dari PPATK untuk memanggil yang bersangkutan dan dimintai keterangan.

"Nah, perbedaan data ini yang kemudian dipakai oleh Direktorat Jenderal Pajak memanggil kepada yang bersangkutan," ujar Sri Mulyani.

 

Editor : Muh. Syakir
#Menkeu Sri Mulyani Indrawati
Berikan Komentar Anda