Jumat, 25 Desember 2020 12:58

Refleksi Natal, Gereja di Papua Harus Lawan Ketidakadilan

Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua Pdt Dr Socratez S Yoman.
Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua Pdt Dr Socratez S Yoman.

Pembalasan tidak dilakukan oleh seluruh orang Papua, walaupun keluarga dan saudara-saudaranya tewas di tangan TNI-Polri dari waktu ke waktu dengan mitos-mitos yang sangat merendahkan harkat dan martabat kemanusiaan orang-orang Papua, tetap sejuk dan damai karena kuasa Damai Natal menjadi pilar dalam hidup orang-orang Papua

PAPUA, PEDOMANMEDIA - Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua (PGBWP) Pdt Dr Socratez S Yoman mengatakan, kalau Papua mau dijadikan tanah damai permanen, maka tuntutannya ialah melalui kuasa Damai Natal 25 Desember 2020. Gereja-gereja di Papua harus mengakhiri mitos-mitos/stigma-stigma milik Negara dan TNI-Polri seperti makar, OPM, separatis dan mitos terbaru milik TNI-Polri yaitu Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).

"Gereja-gereja di Papua harus lawan dan menentang untuk menghetinkan dan mengakhiri kejahatan dan kekejaman Negara yang merendahkan martabat kemanusiaan umat Tuhan di Tanah Papua," tegasnya.

Ia menjelaskan, mengapa damai natal tidak hilang di Nduga, Intan Jaya dan Puncak itu karena damai Natal itu kuasa Allah yang nyata di bumi. Damai Natal itu kekal. Karena damai natal itu Tuhan Yesus Kristus sendiri. Damai Natal itu Allah.

Baca Juga

"Kuasa Damai Natal tidak dihilangkan dengan moncong senjata TNI-Polri yang berwatak barbar dan kriminal selama ini dari waktu ke waktu di seluruh Tanah Papua, lebih khusus di Nduga, Intan Jaya dan Puncak belakangan ini," katanya.

"Kuasa Damai Natal itu tidak pernah hilang dengan mitos-mitos dan stigma-stigma yang diproduksi dan dipelihara serta digunakan oleh Negara Indonesia dan TNI-Polri seperti makar, separatis, OPM, dan KKB," katanya.

Ia menjelaskan, kuasa damai Natal itu hidup. Kuasa damai Natal itu pengharapan dan jaminan kepastian hidup kekal. Kuasa Damai Natal untuk membebaskan dan memerdekakan umat manusia dari belenggu kuasa iblis dan kuasa dosa.

Karena itu manusia tidak mampu dan tidak sanggup untuk membebaskan diri dari belenggu kuasa Iblis dan kuasa dosa. Kebebasan, kemerdekaan, kedamaian dan pengharapan hidup kekal itu hanya melalui Yesus Kristus dan disebut kuasa damai Natal. Kuasa damai Natal perdamaian antara Allah dengan manusia. Kuasa damai Natal perdamaian antara sesama manusia.

"Kuasa Damai Natal itu tidak pernah hilang dari orang-orang Nduga, Intan Jaya, Puncak dan seluruh Papua. Kuasa damai Natal adalah harta bernilai kekal dan milik sebagai warisan ilahi yang tidak diraih dan tidak dirampas oleh TNI-Polri dengan mitos-mitos dan stigma-stima makar, OPM, Separatis, KKB. Umat Tuhan di seluruh Papua, Nduga, Intan Jaya, Puncak percaya dan beriman," katanya lagi.

Mengapa Kuasa damai Natal itu tidak hilang di Papua, Nduga, Intan Jaya, Puncak? Apakah ada bukti-bukti kuasa damai Natal menjadi harta yang berharga yang dihidupi dalam hati dan seluruh hidup umat Tuhan di Papua, Nduga, Intan Jaya dan Ilaga?

"Pada saat pemimpin orang-orang asli Papua seperti Arnold C.Ap, Theodorus Hiyo Eluay, Yustinus Murip, Kelly Kwalik, Mako Tabuni, Pendeta Elisa Tabuni, Pendeta Gerimin Nigiri, Pdt. Yeremia Zabanani, dan masih banyak orang Papua tewas ditangan TNI-Polri, tetapi orang-orang asli Papua tidak pernah dan belum pernah melakukan perlawan dengan keras dan brutal. Walaupun Negara dan TNI-Polri berwatak barbar dan kriminal dan tidak beradab dan tidak manusiawi," ujar Gembala.

"Pembalasan tidak dilakukan oleh seluruh orang Papua, walaupun keluarga dan saudara-saudaranya tewas di tangan TNI-Polri dari waktu ke waktu dengan mitos-mitos yang sangat merendahkan harkat dan martabat kemanusiaan orang-orang Papua, tetap sejuk dan damai karena kuasa Damai Natal menjadi pilar dalam hidup orang-orang Papua," jelasnya.

Penulis : Jackson Ikomou
Editor : Jusrianto
#Natal #Gereja Papua #Lawan Ketidakadilan
Berikan Komentar Anda