BULUKUMBA, PEDOMANMEDIA - Dinamika politik pemilihan umum legislatif (Pileg) DPR RI daerah pemilihan (Dapil) Sulsel 2 tahun 2024, kian sengit. Dari 8 partai politik pemilik 9 kursi di dapil yang meliputi 9 kabupaten/kota saat ini, ada beberapa parpol yang dinilai rawan disalip.
Di sisi lain, terdapat parpol yang relatif aman kursinya. Ada juga parpol yang dianggap punya kans besar untuk bisa menambah perolehan kursi dari hasil pileg tahun 2019 sebelumnya.
Hasil Pileg 2029 lalu, ada 9 yang leading menjadi wakil rakyat di Dapil Sulsel 2 di antaranya Andi Rio Idris Padjalangi (Golkar), Andi Iwan Darmawan Aras (Gerindra), Hasnah Syam (NasDem), Supriansa (Golkar), Andi Yuliani Paris (PAN), Samsu Niang (PDIP), Muh Aras (PPP), Andi Akmal Pasluddin (PKS), dan Andi Muawiyah Ramly (PKB).
Pada Pileg 2024 di Dapil Sulsel 2, hanya satu figur petahana yang tak ikut ring kontestasi. Ia adalah legislator Partai NasDem, Hasnah Syam. Meski begitu, Partai NasDem dinilai relatif aman dalam mempertahankan kursinya.
Dapil Sulsel 2 meliputi Kabupaten Maros, Pangkep, Parepare, Barru, Wajo, Soppeng, Bone, Sinjai dan Bulukumba.
Lantas, parpol apakah yang akan terdepak di 2024 Dapil Sulsel 2?
Manajer Strategi dan Operasional Jaringan Suara Indonesia (JSI), Nursandy Syam menilai peluang parpol yang punya kursi di Dapil Sulsel 2 kemungkinannya bisa mengalami pergeseran.
Sebab secara kualitatif kata dia, parpol seperti Gerindra berpotensi meraih dua kursi dan Golkar yang berpotensi meraih tiga kursi. Jika itu terjadi, praktis parpol lain bisa kehilangan kursi.
"Secara kualitatif, kualitas dan pergerakan calegnya (Golkar dan Gerindra) massif. Potensi penambahan kursi itu kemungkinan bisa terjadi," kata Nursandy Syam kepada PEDOMAN.MEDIA, Kamis, 30 November 2023.
Menurut dia, dua bulan ke depan merupakan waktu yang sangat menentukan. Dinamika lapangan sangat tinggi seiring pergerakan caleg yang semakin intens bertemu calon pemilih.
Selain Golkar dan Gerindra, Nursandy berpendapat parpol yang relatif aman meraih kursi di Dapil Sulsel 2 yaitu NasDem, PKB, PDIP, Demokrat dan PAN. Ia menyebut peluang Demokrat mengamankan 1 kursi dengan komposisi caleg yang dimiliki saat ini.
"PKS dan PPP rawan kehilangan kursi jika Demokrat berhasil mengunci 1 kursi, sementara Golkar dan Gerindra berhasil meningkatkan perolehan kursinya," ujarnya.
Pengamat politik dari Universitas Hasanuddin (Unhas), Sukri Tamma berpandangan bahwasanya parpol yang memiliki kursi saat ini, memiliki modal awal yang baik dalam persaingan pemilu.
"Paling tidak kepemilikan kursi, artinya mereka memiliki potensi basis suara dukungan sebagai syarat mendapatkan kursi yang mereka miliki," katanya.
Dengan demikian, Dekan Fakultas Sospol Unhas ini menguraikan bahwa parpol pemilik kursi tentu sudah punya interaksi yang baik dengan masyarakat dan hanya butuh untuk mempertahankannya.
"Jika selama periodenya, para pemilik kursi ini betul-betul memaksimalkan masa jabatannya untuk melakukan berbagai hal yang disukai masyarakat, maka tidak mudah bagi mereka untuk dikalahkan di basis-basisnya," jelas Sukri Tamma.
Meski begitu, lanjutnya, peluang partai yang tak punya kursi di Pileg 2019 lalu, juga tetap terbuka. Paling tidak mengisi ruang yang selama ini belum disentuh partai yang memiliki kursi, atau dapat juga memanfaatkan isu-isu tertentu yang disukai masyarakat untuk kemudian dijadikan sebagai bahan kampanye, misalnya dukungan partainya pada Calon Presiden tertentu.
"Selain itu juga, jika kandidat dari partai non-kursi adalah orang-orang yang secara sosial memang telah dikenal, maka ada peluang untuk dapat merebut suara," ungkap Sukri Tamma.
Pengamat politik Unibos Makassar, Arief Wicaksono mengemukakan beberapa parpol yang sudah punya kursi di DPRD, posisinya pasti lebih kuat daripada yang tidak punya kursi.
"Persoalannya bagaimana caranya parpol non-kursi akan menyalip kursi petahana di legislatif, itu soal strategi saja," ungkapnya.
Sehingga kata Arief Wicaksono, parpol yang punya kursi tidak bisa jumawa juga terhadap pendatang baru. Sebab, kelemahan partai lama sudah dipelajari oleh partai-partai baru atau pun partai lama non-kursi.
"Ya, itu kembali ke partai masing-masing. Tapi yang paling umum terjadi adalah mereka menggunakan strategi memaksimalkan kelemahan lawannya," ungkapnya saat ditanya bagaimana strategi parpol non-kursi untuk bisa menyalip kursi.
Pengamat politik Universitas Muhammadiyah Sinjai, Hermansyah ikut dimintai pendapat. Ia bilang parpol yang ada perwakilannya saat ini di legislatif, perlu ekstra hati-hati dalam melihat potensi parpol pendatang baru yang kian membaik.
Sehingga, semua partai yang ada di legislatif perlu mencermati kesungguhan kader untuk meraih suara di masyarakat, perlu sosialisasi yang efektif, serta lebih menunjukkan karya nyatanya di masyarakat.
"Potensi untuk saling nyalip suara, sangat terbuka. Olehnya saat ini perlu strategi komunikasi politik yang efektif, rawan terjadi dan bahkan ada partai yang ada di legislatif saat ini tidak bisa mendudukkan kadernya lagi pada pemilu tahun depan, jika tidak efektif memberikan penekanan kepada kader untuk bekerja secara maksimal dan efektif," tukasnya.
TAG
BERITA TERKAIT
-
Mencuat Lagi, KPU Tator Diduga Terbitkan DPTB Palsu di Pileg 2024
-
Sidang Sengketa Pileg 2024 Dimulai Hari ini, Begini Persiapan KPU RI
-
PERSPEKTIF: Samsir, 15 Tahun jadi Jurnalis, Kini ke Parlemen Bulukumba
-
Tak Capai Target di Pileg, Partai Gelora Evaluasi Total Usai Lebaran
-
Kandas di Pileg, Ketua Golkar Bulukumba Nirwan Arifuddin Tatap Pilkada