PWI Minta Polisi Periksa Direktur PDAM Tator Terkait Intimidasi Terhadap Jurnalis PEDOMAN MEDIA
Tindakan intimidasi terhadap wartawan yang menjalankan aktivitas jurnalistik adalah bentuk pembungkaman terhadap kemerdekaan pers.
TORAJA, PEDOMANMEDIA - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Toraja mendesak polisi memeriksa Direktur PDAM Tator Frans Mangguali terkait tindakan intimidasi terhadap wartawan PEDOMANMEDIA, Andarias Padaunan. PWI juga menyayangkan tindakan Frans yang dinilai arogan.
"Iya PWI sangat menyayangkan sikap arogan direktur PDAM. Kami meminta kepolisian untuk melakukan proses hukum," ujar Ketua PWI Toraja, Jerni Ma'guling, kepada PEDOMANMEDIA, Jumat (15/12/2023).
Menurut Jerni, tindakan intimidasi terhadap wartawan yang menjalankan aktivitas jurnalistik adalah bentuk pembungkaman terhadap kemerdekaan pers. Tindakan itu tegas Jerni, adalah pelanggaran hukum.
"Inikan bentuk-bentuk pembungkaman terhadap kemerdekaan pers. Sangat bertentangan dengan UU Pers Nomor 40. Ini bisa dijerat pidana karena menghalangi tugas wartawan dan melakukan tindakan intimidasi," tandas Jerni.
Ia mengemukakan, jika Direktur PDAM merasa dirugikan oleh wartawan, seharusnya ia menempuh cara-cara yang lebih bermartabat. Bukan tindakan yang menjurus pada tindak kekerasan.
Jerni mendesak agar ada proses hukum dalam kasus ini.
"Harus ada proses hukum. Agar tidak terjadi lagi kekerasan terhadap wartawan di kemudian hari. Baik kekerasan verbal maupun fisik," imbuhnya.
Sementara itu Kapolres Tator AKBP Malpa Malacoppo saat dikonfirmasi mengatakan, semua kasus ditangani secara profesional.
"Semua kasus ditangani profesional," ujar Malpa Kepada PEDOMANMEDIA, Jumat (15/12/2023).
Lebih lanjut Malpa, untuk mengetahui proses penanganan laporan dugaan intimidasi terhadap wartawan, ia mempersilakan berkoordinasi dengan penyidik.
"Penyidik yang tangani, silakan koordinasi," tutupnya.
Sebelumnya, Direktur PDAM Tana Toraja Frans Mangguali dilaporkan ke polisi atas dugaan tindakan intimidasi terhadap wartawan PEDOMANMEDIA, Andarias Padaunan. Tak hanya intimidasi verbal, Andarias juga nyaris dikeroyok pegawai PDAM dan mobil miliknya dirusak.
Peristiwa ini terjadi Jumat pagi (15/11/2023) sekitar pukul 09.00 di Kantor PDAM Tator. Andarias mengalami peristiwa itu saat menjalankan tugas liputan.
Andarias telah melaporkan peristiwa ini ke Polres Tator.
Andarias menuturkan, sehari sebelumnya ia telah mengatur janji dengan Frans Mangguali untuk wawancara terkait pendapatan PDAM tahun 2023.
"Tadi malam saya dengan beliau (Frans Mangguali) chatingan via WA. Saya wawancara soal pendapatan PDAM. Tapi dia meminta saya ke kantornya. Katanya kalau lewat WA kurang bagus. Bagusnya ke kantor saja supaya datanya lebih lengkap," ujar Andarias menirukan Frans.
Saat itu Frans sangat bersahabat. Malah kata Andarias, Frans mengajaknya mencari tempat yang suasananya lebih santai.
"Kita duduk-duduk sambil cerita dinda. Cari tempat saya menyesuaikan," begitu kata Frans menurut pengakuan Andarias.
Namun akhirnya wawancara disepakati di kantor PDAM, Jumat pagi.
"Saya bilang iya pak besok pagi saya ke kantor. Supaya lebih bagus. Dia bilang oke bos saya tunggu," terang Andarias.
Jumat pagi, saat tiba di kantor PDAM, Andarias langsung menuju ke ruang kerja Frans Mangguali.
"Waktu saya masuk, saya beri salam. Tapi saya lihat mukanya mulai agak lain. Kayak marah begitu," tutur Andarias.
Lalu Andarias masuk dan menanyakan soal materi wawancara kemarin. Tapi Frans tiba-tiba emosi.
"Dia bilang apa kapasitasmu mau tahu soal itu. Saya tidak mau kasih datanya. Kenapa!," ketusnya dengan nada emosi.
Selanjutnya Frans berdiri dan menghampiri Andarias. Lalu ia mendorong Andarias sembari melontarkan kata-kata kasar.
"Dia mendorong saya beberapa kali kemudian saya tanya pak direktur sabar ki pak. Namun beliau tetap emosi. Bahkan dia sudah lontarkan kata-kata kotor. Tapi saya tetap berusaha tenang," ucapnya.
Kemudian datang salah satu stafnya. Ia menyuruh Andarias segera pulang.
"Dia pakai bahasa Toraja dengan saya. Dia bilang, Andarias sule miko (pulang saja) kemudian saya pulang. Namun pak direktur tetap emosi dan mengikuti saya sampai di mobil. Ia mendorong saya berulang kali sampai di mobil," kata Andarias.
Saat itu beberapa pegawai PDAM datang mengurung mobil Andarias. Ada beberapa orang yang berteriak 'bunuh saja'.
"Mereka teriak dengan bahasa Toraja patei tu (bunuh itu) sambil memukul mobil saya dan mau membuka paksa pintu mobil saya. Tapi saya sudah kunci dari dalam. Mereka memburu saya sampai keluar dari kantor PDAM," jelasnya.
Akibat peristiwa tersebut mobil Andarias mengalami beberapa kerusakan.
"Ada yang tergores karena dipukuli pegawai yang mengepung saya. Dan pintu kacanya terbuka. Untung tidak pecah," ucap Andarias.
