Habiskan Rp700 Juta, Festival Paduan Suara di Toraja Utara Dipertanyakan
Seharusnya pemkab tidak memaksakan pelaksanaan kegiatan yang terlalu menguras APBD.
TORUT, PEDOMANMEDIA - Pemkab Toraja Utara menghabiskan anggaran untuk Festival Paduan Suara sebesar Rp700 juta. Angka ini dinilai cukup fantastis dan membebani APBD.
"Saya kira terlalu besar anggarannya. Terkesan tidak realistis. Dengan nilai Rp700 juta itu membebani APBD secara berlebihan," ujar Direktur Laksus Muhammad Ansar, Sabtu (16/12/2023).
Menurut Ansar, di tengah kondisi keuangan Pemkab Toraja Utara yang sedang 'sakit', pembiayaan Festival Paduan Suara terbilang besar. Malah ia melihat, ada kesan anggaran dipaksakan.
"Saya kira harus ada audit soal ini. Publik berhak tahu anggaran Rp700 juta itu untuk apa saja," tandasnya.
Lanjut Ansar, seharusnya pemkab tidak memaksakan pelaksanaan kegiatan yang terlalu menguras APBD. Sementara banyak sektor infrastruktur di Torut yang masih berjalan di tempat.
"Semua kan tahu pembangunan tidak berjalan baik di Torut. Sektor infrastruktur tidak menyentuh masyarakat, di pelosok," tukasnya.
Kepala Dinas Ketenagakerjaan Toraja Utara Dedi Raru mengakui, anggaran Festival Paduan Suara mencapai Rp700 juta. Anggaran ini bersumber dari APBD 2023.
"Jadi saya mau luruskan bahwa kami dari pihak panitia kabupaten tidak ada pungutan ke peserta baik dari lembang maupun dari kecamatan, karena kegiatan ini dibiayai dari anggaran APBD Rp700 juta kemudian ada juga dari sponsor Rp400 juta," kata Dedi.
Dedi juga menegaskan, anggaran festival murni dari APBD. Tidak ada pungutan dari lembang ke kecamatan. Jika pun ada, kata dia, itu hanya inisiatif yang bersifat sukarela.
"Kami tidak memungut baik dari OPD mau pun dari lembang - lembang mungkin itu inisiatif dari camat dan kepala lembang untuk tim paduan suara dari masing - masing kecamatan. Karena kami ada anggaran jelas jadi kalau ada yang bilang kegiatan paduan suara ada pungutan dari OPD dan lembang itu tidak benar," bebernya.
