Kamis, 29 Februari 2024 11:00

Harga Beras dan Cabai Bisa Gila-gilaan Masuk Ramadan

Ilustrasi (int)
Ilustrasi (int)

Pemerintah lebih memilih solusi jangka pendek. Seperti penyaluran sembako ke masyarakat kurang mampu.

MAKASSAR, PEDOMANMEDIA - Ekonom Sulsel, Sjamsul Ridjal mengatakan, harga beras dan cabai menjadi komoditas paling labil saat ini. Jika tak dikendalikan, keduanya bisa naik gila-gilaan di bulan Ramadan.

"Kondisinya sudah terlihat bahwa beras sulit kita kendalikan. Ada banyak faktor yang memicu kenaikan beras dan cabai. Bukan sekadar soal dampak panjang El Nino," terang Sjamsul, Kamis (29/2/2024).

Menurut dia, El Nino adalah faktor awal. Tetapi saat ini ada pemicu psikologis yang tidak bisa diputus pemerintah.

Baca Juga

"Akhirnya terjadi kendala yang menghambat hingga lebih serius. Seperti misalnya rantai distribusi. Di situ ada masalah. Ada permainan oleh distributor. Mereka menahan barang karena mereka tahu kondisi ini akan panjang. Parahnya lagi pemerintah tak bisa mencegah praktik spekulan itu," papar Sjamsul.

Kedua jelas Sjamsul, pemerintah lebih memilih solusi jangka pendek. Seperti penyaluran sembako ke masyarakat kurang mampu.

Padahal menurutnya, ini tak menyentuh akar masalah. Program sembako hanya menyelesikan persoalan di permukaan.

"Kita kan mau ada solusi dari hulu ke hilir. Bagi-bagi sembako itu solusi jangka pendek. Efeknya kecil. Yang paling penting sekarang bagaimana mengendalikan harga dan menjaga stok," ketusnya.

Sebelumnya pengamat ekonomi Sulsel, Sutardjo Tui mengatakan, kenaikan harga beras terjadi karena ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran. Kondisi ini diperparah oleh kekacauan rantai distribusi.

"Supply and demand tidak berimbang. Termasuk supply chain saluran distribusi kemungkinan mengalami hambatan," ujar Sutardjo Tui kepada PEDOMANMEDIA, Senin (26/02/2024).

Menurut Sutardjo, permintaan beras saat ini tidak berbanding lurus dengan stok yang dilempar ke pasar. Stok beras cenderung berkurang. Sehingga tidak mampu memenuhi permintaan konsumen.

"Permintaan beras sebenarnya tetap seperti biasa. Kan komoditas ini menjadi makanan pokok masyarakat Indonesia termasuk Sulawesi Selatan. Namun permintaan tersebut tidak diimbangi oleh peningkatan produksi," jelasnya.

Dijelaskan Sutardjo, keterbatasan produksi beras disebabkan beberapa hal. Antara lain seperti El Nino yang menyebabkan kemarau panjang pada 2023.

Kkndisi ini menyebabkan masa panen mundur dari waktu biasanya. Bahkan untuk daerah tertentu terjadi gagal panen.

Faktor lain kata Surtardjo, bisa karena perilaku spekulan. Memungkinkan ini terjadi karena ada kartel yang bermain hingga terjadi gejolak.

"Tapi kita berharap semoga saja tidak. Semoga tidak ada campur tangan mafia beras. Karena sebenarnya Sulsel itu adalah lumbung beras sebagai daerah penyangga pangan untuk daerah lain di Indonesia," ucap Sutardjo.

Ke depan, menurut Sutardjo, data mengenai kebutuhan beras serta cadangan yang tersedia di Bulog harus lebih akurat. Sehingga apabila terjadi kelangkaan, bisa dengan cepat diantisipasi.

"Kita ambil hikmahnya saja karena dengan kenaikan harga berarti pendapatan petani akan meningkat semoga," tutup dia.

Editor : Muh. Syakir
#Harga beras naik
Berikan Komentar Anda