Muh. Syakir : Minggu, 17 Januari 2021 08:02
Mensos Tri Rismaharini (INT)

JAKARTA, PEDOMANMEDIA - Sebuah video penjarahan bantuan logistik untuk korban gempa Sulbar, viral di media sosial Sabtu kemarin. Menteri Sosial Tri Rismaharini menyebutnya bukan penjarahan, tapi respons terhadap situasi di wilayah terdampak yang menyebabkan kelaparan.

"Bukan penjarahan. Ini respons atas situasi di daerah bencana yang menyebabkan bantuan sempat terhambat. Itu karena jalur terputus," ujar Risma, Sabtu (16/1/2021).

Dalam video yang viral tampak sebuah truk dikerubuti warga. Beberapa warga nekat menaiki truk dan menjarah barang barang logistik. Puluhan barang yang dikemas dalam dos dilempar ke bawah dan diperebutkan warga.

Namun Mensos Risma mengatakan kejadian itu bukanlah penjarahan. Itu terjadi karena terhambatnya bantuan akibat jalur penghubung antara Kota Makassar dan Kabupaten Mamuju yang terputus. Sehingga warga di beberapa wilayah terdampak tak tersentuh bantuan.

"Jadi begini, ada beberapa video yang beredar bahwa seolah-olah itu penjarahan. Tapi kejadian sebetulnya bukan begitu. Memang karena kemarin (jalur penghubung) Makassar dengan Mamuju itu terputus karena ada longsoran. Mungkin sekarang baru dikerjakan," kata Risma.

Menurut Risma, dengan terputusnya jalur penghubung tersebut akibat longsor, Risma menyampaikan pengiriman bahan pangan bantuan untuk gempa bumi di Mamuju dan Majene harus berputar dengan waktu sekitar 6 jam.

"Sehingga bahan kebutuhan pangan kita itu harus muter, kurang-lebih 6 jam. Jadi baru tadi pagi sampai, karena mestinya 9 jam. Tapi ditambah muter lagi 6 jam baru sampai. Kita baru bisa membagi. Mungkin mereka juga kelaparan kondisinya," ungkap Risma.

Risma kembali menegaskan peristiwa dalam video yang beredar tersebut terjadi di Majene bukanlah penjarahan.

"Jadi sekali lagi, bukan penjarahan. Karena kita harus bisa membaca situasi, karena tidak ada pasar yang buka, tidak ada toko yang buka. Karena semua takut, sehingga semua mengungsi. Semua bahan makanan yang kita bawa dari Palu dan Makassar," tegas Risma.

Berbeda dengan Mensos Risma, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga memberikan pernyataan atas viralnya video yang diduga sebagai aksi penjarahan terhadap bantuan korban gampa bumi di Sulbar. BNPB menegaskan sempat terjadi kejadian penjarahan yang saat ini sedang diselidiki aparat kepolisian setempat.

"Untuk penjarahan, berdasarkan informasi yang kami dapatkan, ini memang sempat terjadi. Namun saat ini lagi tengah dilakukan penyelidikan oleh pihak kepolisian setempat," kata Kapusdatinkom BNPB Raditya Jati menjawab pertanyaan wartawan mengenai viralnya penjarahan di lokasi bencana dalam konferensi pers di BNPB, Sabtu (16/1).

Menurut Raditya, saat ini sudah dilakukan upaya penanganan agar kejadian penjarahan tidak kembali terulang. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melakukan pengamanan di jalur-jalur yang rawan terjadi penjarahan.

"Selain itu, telah dilakukan upaya-upaya penanganan untuk pada jalur-jalur yang dikhawatirkan terjadinya kerawanan-kerawanan sosial semacam itu," ungkapnya.

Raditya juga mengimbau kepada semua pihak yang ingin membantu korban bencana alam agar memberikan bantuan melalui posko yang sudah tersedia. Ia berharap gejolak sosial dalam situasi bencana alam ini dapat diminimalisasi.

"Tentunya, selain upaya yang dilakukan oleh aparat setempat, kami juga mengimbau kepada berbagai pihak yang ingin mengirimkan bantuan untuk berkoordinasi kepada posko, dan perlu menjadi catatan kita semua bahwa koordinasi melalui posko ini tentunya akan memastikan bahwa distribusi logistik pada kantong-kantong dimana pengungsian masyarakat banyak pengungsi ini dapat terdistribusi secara merata dan baik," jelas Raditya.