Oleh Aswar Hasan
SUATU hari, khalifah Umar selaku pemimpin mendapat laporan bahwa ada seekor keledai yang tergelincir dan jatuh ke dalam lubang di jalanan Baghdad. Keledai itu terluka parah akibat kejadian tersebut.
Mendengar laporan ini, Khalifah Umar sangat marah dan merasa bersalah. Beliau berkata, "Seandainya seekor anjing tersesat di kota Madinah, pasti Umar yang akan bertanggung jawab." Beliau kemudian memerintahkan untuk memperbaiki jalan tersebut dan memastikan tidak ada lagi hewan atau orang yang celaka akibat jalan yang rusak.
Kisah ini memberikan beberapa pelajaran penting, khususnya tanggung jawab seorang pemimpin. Seorang pemimpin memiliki tanggung jawab besar terhadap kesejahteraan dan kemaslahatan hidup rakyatnya, termasuk hewan sekali pun. Khalifah Umar memberikan contoh bahwa seorang pemimpin harus peduli terhadap hal-hal kecil dan tidak meremehkan masalah yang dihadapi rakyatnya.
Khalifah Umar memiliki rasa empati yang tinggi terhadap penderitaan orang lain, bahkan hewan. Beliau merasakan apa yang dirasakan oleh keledai yang tergelincir dan terluka.
Atas petistiwa tersebut, Khalifah Umar tidak menyalahkan siapa pun. Beliau justru menyalahkan dirinya sendiri dan berusaha untuk memperbaiki diri agar tidak ada lagi kejadian serupa di kemudian hari. Kisah ini adalah contoh yang sangat baik tentang kepemimpinan yang bertanggung jawab.
Bagaimana dengan banjir yang saat ini melanda warga? Akibat banjir itu, Kulkas dan TV yang baru sempat ia mililiki setelah mencicilnya seketika tidak bisa lagi dia nikmati karena korslet akibat banjir. Anak -anak sekolah sulit lagi belajar. Makan sulit, karena tidak bisa memasak. Tidur pun tidak sempat lagi.
Jumlah kerugian akibat banjir itu memang sempat dihitung oleh pemerintah tetapi cuma sampai kalkulasi kerugian. Jangan harap ada ganti kerugian.
Padahal jika diusut lebih jauh warga yang menderita dan merugi tersebut, boleh jadi karena kelalaian/kesalahan Pemerintah beserta pihak terkait ( developer). Betapa tidak, saat penentuan lokasi perumahan dan saat membangunnya seharusnya sudah menghitung segala kemungkinannya, misalnya dari ilmu perencanan dan Amdal.
Namun, konon adakalanya semuanya dilabrak asal ada “saling pengertian”, pembangunan perumahan (calon genangan air itu) dilancarkan demi “ kelancaran yang lainnya. Al hasil pembeli/calon penghuni rumah itu jadi KORBAN.
Akibat banjir itu, seharusnya mereka (korban khususnya Pemerintah) tidak menyalahkan alam apalagi Tuhan. Tuhan bahkan mengingatkan bahwa: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. Ar-Rum: 41).
Yah,... kerusakan itu akibat tangan-tangan manusia siapakah tangan manusia itu,apakah tangan oknum pemerintah dan developer? Wallahu a’lam bisawwabe
BERITA TERKAIT
-
UJUNG PENA: Bendera One Piece Berkibar, Fiksi Menggugat Realitas
-
UJUNG PENA: Ketika Negara Mengancam Rakyatnya dan Diperlakukan Sebagai Musuh
-
UJUNG PENA: Berani Karena Benar, Melawan Kebohongan Demi Kejujuran
-
UJUNG PENA: Jika Kebenaran Ditinggalkan Oleh Penguasa
-
UJUNG PENA: Ijazah Identik, Tapi Dipertanyakan Otentitasnya