TATOR, PEDOMANMEDIA - Video stand up comedy Pandji Pragiwaksono yang menyentil budaya Toraja menuai prokontra. Sejumlah tokoh dan organisasi dari Toraja menuntut Pandji meminta maaf.
Pegiat budaya Toraja, Sismay Eliata Tulungallo ikut angkat suara. Ditemui PEDOMANMEDIA, Sismay berpendapat bahwa pada prinsipnya budaya Toraja itu memang unik. Jenazah orang Toraja bisa disimpan di bertahun-tahun hingga menunggu waktunya di upacara sesuai adat Toraja.
Tapi di sisi lain, Sismay memaklumi Pandji atas sikapnya itu sebagai pekerja seni. Menurut Sismay, Pandji mungkin merasa cukup nyaman untuk mengkritik adat pemakaman orang Toraja karena beberapa alasan.
"Pertama, sebagai seorang komedian, Pandji mungkin menggunakan metode satire untuk menyampaikan pesan sosial, dan ini seringkali dianggap sebagai cara untuk membahas isu sensitif dengan cara yang lebih santai. Namun, ini tidak selalu diterima dengan baik oleh masyarakat yang terkait langsung dengan budaya tersebut," jelasnya.
Kedua, Pandji mungkin tidak sepenuhnya memahami kompleksitas budaya Toraja. Atau mungkin tidak berniat untuk menyinggung perasaan masyarakat Toraja.
Ketiga, lanjut Sismay, sebagai seorang publik figur dengan audiens yang luas, Pandji mungkin merasa bahwa kritik sosial yang dia lontarkan bisa memicu diskusi yang lebih luas tentang praktik budaya dan dampaknya. Ini bisa jadi merupakan upaya untuk meningkatkan kesadaran dan memulai dialog tentang isu-isu yang mungkin perlu ditinjau atau dibahas lebih lanjut.
"Menurut saya, di sisi lain, saya mengapresi seorang publik figur bernama Pandji. Kenapa, Panjdi mampu dan cukup berani meningkatkan kesadaran dan memulai dialog tentang isu-isu yang mungkin perlu kita tinjau atau dibahas lebih lanjut seperti yang disampaikan Panjdi," kata Sismay di salah satu cafe di Makale, Tana Toraja, Selasa 4 November 2025.
Dalam kesempatan itu, Sismay melontarkan pandangannya tentang tradisi Toraja di Sulawesi Selatan. Suku Toraja memang memiliki ritual unik dan kompleks seputar kematian, yang kadang memakan waktu lama sebelum jenazahnya dikuburkan.
Proses ini melibatkan upacara adat yang sakral dan persiapan yang panjang. Ini mencerminkan hubungan erat antara kehidupan dan kematian dalam budaya Toraja.
"Ada beberapa faktor sampai Suku Toraja itu biasanya kalau meninggal butuh waktu lama baru disemayamkan. Pertama, itu mungkin karena keturunan bangsawan yang lazim disebut 'Puang', Ma'dika, Siambek, Anak Patalo," ungkap Sismay.
"Namun ada pula, orang biasa katakan, jenazah belum disemayamkan karena keluarga masih butuh persiapan untuk pemakaman. Misalnya, dari segi biaya, dan keluarga masih diperantauan," ucap Sismay.