Jumat, 19 Juni 2026 18:40

Farhan: Penanggulangan HIV/AIDS Harus Kedepankan Edukasi

Farhan: Penanggulangan HIV/AIDS Harus Kedepankan Edukasi

Ia berharap sinergi yang telah terbangun antara pemerintah, organisasi masyarakat sipil, komunitas, fasilitas layanan kesehatan, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya dapat terus diperkuat. 

BANDUNG, PEDOMANMEDIA - Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung terus memperkuat upaya penanggulangan HIV/AIDS melalui kolaborasi dengan Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) dan Organisasi Berbasis Komunitas (OBK).

Langkah ini menjadi bagian penting dalam memperluas jangkauan layanan pencegahan, deteksi dini, pendampingan, serta penguatan dukungan bagi Orang dengan HIV (ODHIV) di Kota Bandung.

Peran OMS yang bergerak di bidang HIV/AIDS dinilai sangat strategis karena menjadi garda terdepan dalam menemukan kasus baru, melakukan pendampingan terhadap ODHIV, serta menjembatani akses masyarakat ke layanan kesehatan dan layanan sosial lainnya. 

Baca Juga

Keberadaan organisasi tersebut turut mendukung upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas penanganan HIV/AIDS secara menyeluruh.

Sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan peran masyarakat dalam penanggulangan HIV/AIDS, Pemerintah Kota Bandung mendorong penerapan mekanisme social contracting atau kontrak sosial antara pemerintah dan OMS. 

Skema ini memungkinkan organisasi masyarakat sipil terlibat secara lebih formal dalam pelaksanaan program-program penanggulangan HIV yang didukung pemerintah daerah.

Komitmen tersebut terlihat pada tahun 2025 ketika OMS dan OBK bersama sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kota Bandung menggelar berbagai forum diskusi untuk merumuskan isu-isu prioritas penanggulangan HIV yang akan dimasukkan ke dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Tahun 2026. 

Beberapa usulan yang dibahas meliputi deteksi dini HIV bagi populasi kunci, penguatan peran Warga Peduli AIDS (WPA), serta sosialisasi dan edukasi HIV kepada masyarakat.

Melalui forum tersebut, OMS dan pemerintah tidak hanya bertukar gagasan, tetapi juga menyusun langkah konkret agar program penanggulangan HIV/AIDS dapat menjangkau lebih banyak masyarakat. 

Kolaborasi ini menjadi contoh praktik baik yang menunjukkan bahwa penanganan HIV/AIDS membutuhkan keterlibatan aktif berbagai pihak, baik pemerintah maupun komunitas.

Di tingkat implementasi, kerja sama melalui skema kontrak sosial mulai dijalankan di berbagai sektor. LSM PKBI Kota Bandung, misalnya, bekerja sama dengan Bagian Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Bandung dan Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) dalam berbagai kegiatan penanggulangan HIV. 

Selain itu, Grapiks Kota Bandung menjalin kolaborasi dengan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol), Female bekerja sama dengan Kementerian Sosial, sementara Rumah Cemara bermitra dengan Dinas Pemuda dan Olahraga. Dukungan juga diberikan melalui kerja sama komunitas dengan Baznas Kota Bandung untuk memperluas jangkauan pemberdayaan dan pendampingan masyarakat.

Berbagai kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa penanggulangan HIV/AIDS merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan sinergi lintas sektor. Melalui kemitraan yang kuat antara pemerintah, organisasi masyarakat sipil, komunitas, fasilitas layanan kesehatan, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya, Kota Bandung terus berupaya memperkuat pencegahan HIV/AIDS, meningkatkan kualitas hidup ODHIV, serta memperluas akses layanan bagi masyarakat yang membutuhkan.

Komitmen tersebut sejalan dengan yang disampaikan Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, saat menghadiri peringatan Hari AIDS Sedunia Kota Bandung pada Desember 2025 lalu. Menurutnya, HIV/AIDS bukan semata persoalan kesehatan, melainkan juga persoalan sosial yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

Farhan menyatakan, upaya penanggulangan HIV/AIDS harus dilakukan melalui pendekatan yang mengedepankan edukasi, ilmu pengetahuan, serta penghapusan stigma terhadap ODHIV. Ia menilai stigma dan diskriminasi masih menjadi tantangan yang perlu diatasi karena dapat menghambat upaya pencegahan, pemeriksaan, pengobatan, hingga pendampingan.

“Ketidakterbukaan sering terjadi karena adanya stigmatisasi. Saya yakin masih ada yang menganggap HIV/AIDS sebagai penyakit kutukan. Stigma seperti ini harus dihentikan. Setiap persoalan peradaban harus dijawab dengan solusi peradaban, yaitu melalui ilmu pengetahuan dan kesadaran kolektif,” ujar Farhan.

Pada kesempatan yang sama, Farhan juga menegaskan tekad Pemkot Bandung untuk mewujudkan target nihil kematian akibat AIDS, nihil stigma terhadap ODHIV, dan nihil kasus baru HIV melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan. 

Menurutnya, keberhasilan penanggulangan HIV/AIDS hanya dapat dicapai apabila pemerintah, komunitas, organisasi masyarakat sipil, dunia usaha, dan masyarakat umum bergerak bersama dalam semangat kepedulian dan kemanusiaan.

Direktur PKBI Kota Bandung, Nunuk Kusniati, menyambut baik komitmen Pemkot Bandung yang terus membuka ruang kolaborasi dengan organisasi masyarakat sipil dan komunitas dalam penanggulangan HIV/AIDS. 

Menurutnya, sinergi yang dibangun selama ini menjadi modal penting untuk memperkuat upaya pencegahan, deteksi dini, pendampingan, serta peningkatan kualitas hidup ODHIV di Kota Bandung.

Nunuk menjelaskan, OMS memiliki peran strategis dalam menjangkau populasi yang sulit mengakses layanan, memberikan edukasi kepada masyarakat, serta mendampingi ODHIV agar mendapatkan layanan kesehatan dan dukungan sosial yang dibutuhkan. 

Oleh karena itu, dukungan dan kemitraan dengan pemerintah daerah menjadi faktor penting dalam memastikan program-program tersebut dapat berjalan secara berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak masyarakat.

“Kami mengapresiasi komitmen Pemkot Bandung yang selama ini memberikan ruang bagi OMS dan komunitas untuk terlibat dalam proses perencanaan maupun pelaksanaan program penanggulangan HIV/AIDS. Kolaborasi seperti ini sangat penting karena penanggulangan HIV/AIDS tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan kerja sama seluruh elemen masyarakat,” kata Nunuk.

Ia berharap sinergi yang telah terbangun antara pemerintah, organisasi masyarakat sipil, komunitas, fasilitas layanan kesehatan, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya dapat terus diperkuat. 

Dengan kolaborasi yang berkelanjutan, Nunuk optimistis Kota Bandung mampu mempercepat pencapaian target penanggulangan HIV/AIDS sekaligus mewujudkan lingkungan yang lebih inklusif, sehat, serta bebas dari stigma dan diskriminasi terhadap ODHIV.

Penulis : Bobi

Editor : Muh. Syakir
#Pemkot Bandung #Wali Kota Bandung Muhammad Farhan #HIV/AIDS
Berikan Komentar Anda