Selasa, 27 April 2021 07:40

4 Orang RI Meninggal Setiap Jam Akibat Corona, Belajar Tatap Muka Diundur

Kematian akibat Corona masih sangat mengkhawatirkan di Indonesia (ilustrasi-int)
Kematian akibat Corona masih sangat mengkhawatirkan di Indonesia (ilustrasi-int)

Butuh observasi untuk memastikan bahwa sekolah benar benar telah siap menerapkan standar prokes Covid.

JAKARTA, PEDOMANMEDIA - Satgas Penanganan Covid-19 mencatat, angka kematian di Indonesia akibat Corona masih mengkhawatirkan. Rasio kematian rata rata 4 orang setiap jamnya.

"Di Indonesia, Covid-19 rata-rata memakan 4 nyawa manusia setiap jamnya," kata Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Doni Monardo, Senin (26/4/2021).

Karena masih tingginya kasus kematian, Satgas berharap tidak ada pelonggaran yang bisa membuka ruang terjadinya penularan masif. Masyarakat juga diminta mendukung upaya ini. Salah satunya dengan mengurungkan niat mudik pada Lebaran nanti.

Baca Juga

Lantas bagaimana dengan rencana belajar tatap muka Juli nanti? Sosiolog Adam Suheri menilai, kebijakan itu terlalu prematur. Butuh observasi untuk memastikan bahwa sekolah benar benar telah siap menerapkan standar prokes Covid.

"Kalau tidak itu sama saja bunuh diri. Kita harus berkaca pada India. Karena pelonggaran, akhirnya mereka menghadapi ledakan kasus luar biasa sekarang," katanya.

Adam berpendapat, sekolah tatap muka tak boleh jadi prioritas. Target Juli sebaiknya ditimbang ulang. Kecuali jika pada Mei atau Juni nanti Indonesia bisa menurunkan angka kasus dan memastikan mutasi India tak masuk ke Tanah Air.

Maret lalu Kementerian Pendidikan memberi ruang dimulainya sekolah tatap muka lebih cepat dari rencana. Jika memungkinkan akan diuji coba pada beberapa provinsi usai Lebaran nanti.

Hanya saja rencana ini mendapat banyak sorotan. Kesiapan pemerintah daerah dalam penerapan protokol kesehatan di sekolah dinilai masih rendah. Risiko munculnya klaster baru sangat dikhawatirkan.

"Kita tidak mau justru nanti klaster itu muncul dari anak anak sekolah. Karena akan sangat sulit menerapkan prokes jika formulasi pembelajaran tidak tepat," kata Sumardi Atmojoyo, pengamat pendidikan, beberapa waktu lalu.

Menurut Sumardi, sejauh ini formulasi belajar tatap muka belum jelas. Terutama soal pengaturan jam belajar dan skenario pengetatan interaksi antarsiswa dalam kelas.

Ia juga mempertanyakan bagaimana mengatur agar tidak terjadi kerumunan di lingkungan sekolah.

"Ini butuh kesiapan semua pihak. Jangan sampai karena semangat kita untuk membuka sekolah membuat kita lupa bahwa pandemi masih ada di tengah tengah kita," jelasnya.

Sumardi menyoroti soal kasus Corona yang masih cenderung tinggi. Meski angka kesembuhan naik di atas rata rata dibanding Desember 2020, tetapi rasio penyebaran juga masih cukup rentan.

Saat ini kasus Corona di Tanah Air sudah menyentuh 1,5 juta kasus. Angka ini naik lebih dari 100 ribu kasus sejak Januari 2021.

"Jadi jangan ngototlah. Harus ada skenario yang aman. Dipaparkan dulu seperti apa agar kajiannya jelas bahwa itu efektif," imbuhnya.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim sendiri tetap berharap pembelajaran tatap muka dimulai Juli nanti. Ia beralasan, riset di banyak negara membuktikan tingkat infeksi Covid-19 pada anak sangat rendah.

"Riset di banyak negara sudah membuktikan bahwa anak usia 3-18 tahun itu memiliki tingkat mortalitas yang sangat rendah dibandingkan usia yang lain. Makanya banyak negara sudah membuka sekolah tatap muka," kata Mendikbud.

Nadiem mengungkapkan, anak-anak di bawah usia 18 tahun memiliki tingkat risiko infeksi yang rendah dibanding orang dewasa. WHO juga menyampaikan rendahnya kasus penularan Covid-19 pada anak di seluruh dunia. Ini menjadi pertimbangan banyak negara memulai sekolah tatap muka meski memiliki kasus Corona yang cukup tinggi.

 

Editor : Muh. Syakir
#Belajar Tata Muka #Corona #Satgas Penanganan Covid-19
Berikan Komentar Anda