Senin, 31 Mei 2021 11:40

Tren Kasus Naik Usai Lebaran, Sudirman Dukung Menkes Kaji Ulang Belajar Tatap Muka

Sudirman Sulaiman
Sudirman Sulaiman

Menkes masih akan melihatnya sampai Juni nanti. Jika dianggap berisiko tinggi maka belajar tatap muka akan dipertimbangkan kembali.

MAKASSAR, PEDOMANMEDIA - Plt Gubernur Sulsel Sudirman Sulaiman mengaku tak bisa memastikan belajar tatap muka dimulai Juli nanti. Keputusan akan diambil jika kasus Corona benar-benar sudah terkendali.

"Tentu kita lihat perkembangan kasus dulu. Kalau belum landai benar nda mungkin dipaksakan (belajar tatap muka). Pasca-Lebaran ada kenaikan kasus aktif dan ini menjadi pertimbangan," ujar Sudirman beberapa waktu lalu. 

Sebelumnya pemerintah mengumumkan kenaikan kasus aktif Corona usai Lebaran. Ada 10 provinsi dengan tren kenaikan mencolok. Termasuk Sulsel. 

Baca Juga

April lalu Sudirman juga sudah memberi pernyataan soal belajar tatap muka. Ia mengatakan, kebijakan ini harus melihat pada perspektif luas. Bukan sekadar kepentingan pendidikan. Tapi juga keselamatan dan efek efek tertentu yang mungkin muncul.

"Kalau sudah dianggap aman dari semua sisi baru kita lakukan. Kita memang dilematis. Tapi keselamatan anak anak itu terpenting," ujarnya.

Belajar tatap muka mengalami 3 kali penundaan sejak Desember lalu. Sebelumnya pemerintah memberi rekomendasi dimulainya pembelajaran tatap muka Januari 2021. Namun rencana itu ditunda menyusul naiknya kembali angka kasus Corona di Tanah Air.

Lalu pada Februari kembali mengalami reskedul. Pemerintah pusat belum mengizinkan. Kemudian diundur ke Juli 2021.

"Masih sangat berisiko untuk memutuskan belajar tatap muka sekarang. Kita akan mulai jika benar benar sudah aman. Pertimbangan risiko penularan harus dilihat," jelas Sudirman.

Selain itu mutasi baru Corona yang sedang menyerang berbagai negara juga menjadi kekhawatiran. Di Eropa, Corona dengan varian baru menyebar dengan cepat. Wabah ini bahkan sudah ditemukan di Asia. Sebulan terakhir India juga kembali mengalami ledakan kasus setelah dilakukan pelonggaran. Begitu Malaysia dan Singapura yang memberlakukan lockdown ketat.

Menurut Sudirman, sebelum pembelajaran tatap muka, harus memenuhi semua pertimbangan keamanan. Aman bagi siswa, pengajar dan lingkungan. Harus juga dipastikan, penerapan protokol kesehatan di sekolah benar benar berjalan sebagaimana mestinya.

Ia menjelaskan bahwa, hal yang harus dipahami bersama adalah upaya dalam memutus mata rantai Covid-19. Pengalaman yang ada, Sulsel berada di urutan ke lima jumlah kasus Covid-19. Bahkan tertinggi di luar Pulau Jawa.

Pemerintah Kota Makassar sebelumnya menyatakan akan melakukan uji coba pembelajaran tatap muka pada Juli nanti.

Juknis pelaksanaan sekolah tatap muka sudah disosialisasikan. Juknis ini terkait format pembelajaran dan penerapan protokol kesehatan.

Corona varian Inggris yang ditemukan di Indonesia Maret lalu, diduga telah menyebar ke sejumlah provinsi. Jika angkanya tak terkendali sampai 3 bulan ke depan, rencana belajar tatap muka memungkinkan batal.

"Kasusnya memang sudah ada. Kita sedang observasi sekarang bagaimana tingkat risikonya pada manusia. Tapi penyebarannya lebih cepat dari covid-190," jelas Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.

Menurut Menkes, soal dampaknya yang bisa membatalkan rencana belajar tatap muka masih akan dilihat sampai Mei dan Juni nanti. Jika tingkat penyebarannya dianggap berisiko tinggi maka akan dipertimbangkan kembali.

"Kita observasi berdasarkan kemungkinan dan risikonya. Kita lihat dalam dua bulan ke depan," jelasnya.

Menkes mendorong agar prokes tetap diperketat. Karena itu menjadi faktor pencegahan paling efisien saat ini. Termasuk vaksin yang harus memenuhi target rampung hingga akhir 2021.

Editor : Muh. Syakir
#Plt Gubernur Sulsel Sudirman Sulaiman #Kasus Aktif Naik #Corona #Menkes Budi Gunadi Sadikin
Berikan Komentar Anda