Minggu, 06 Juni 2021 08:05

Pemberi Suap ke Nurdin Abdullah Diduga tak Hanya 4 Kontraktor, Laksus: Seret Semua

Nurdin Abdullah
Nurdin Abdullah

Laksus meminta agar pengusutan tak hanya menyentuh 4 kontraktor. Melainkan lebih meluas ke kontraktor yang pernah mengerjakan proyek di era Nurdin.

MAKASSAR, PEDOMANMEDIA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) diminta menindaklanjuti pengakuan ajudan soal 4 kontraktor yang memberi suap kepada Gubernur Sulsel nonaktif Nurdin Abdullah. Diduga, masih ada kontraktor lain yang terlibat memberi suap.

"Kami berharap KPK mendalami kasus suap 4 kontraktor yang terungkap di fakta persidangan. Keempatnya juga harus didalami," ucap Direktur Laksus, Muhammad Ansar, Sabtu (5/6/2021).

Menurut Ansar, pengusutan terhadap 4 kontraktor ini penting. Karena ini bisa menjadi pintu masuk untuk menguak pihak-pihak yang memungkinkan ikut terlibat memberi suap kepada Nurdin Abdullah.

Baca Juga

"Ada kemungkinan bukan cuma 4 kontraktor ini yang memberi suap. Bisa jadi ada lebih banyak lagi. Karenanya ini perlu didalami KPK," pinta Ansar.

Dua ajudan Nurdin Abdullah sebelumnya bersaksi dalam sidang lanjutkan kasus dugaan suap perizinan dan pembangunan unfranstruktur di lingkup Pemerintah Provinsi Sulsel tahun anggaran 2020/2021, Kamis lalu. Dalam kesaksiannya, dua ajudan mengaku menerima titipan uang dari 4 kontraktor untuk Nurdin Abdullah.

Ajudan bernama Syamsul Bahri menyebutkan dirinya pernah menerima sejumlah uang dari 4 orang kontraktor atas perintah Nurdin Abdullah. 4 kontraktor yang dimaksud yakni Robert, Khaeruddin, Veri Tandiadi serta Haji Momo.

Penerimaan pertama, kata Syamsul itu datang dari kontraktor bernama Robert pada tahun 2020. Saat itu dirinya diminta Nurdin Abdullah untuk menemui Robert di area parkir rumah jabatan (rujab) Gubernur Sulsel guna mengambil titipan untuk Nurdin Abdullah. Uang ditempatkan dalam kardus.

Penerimaan kedua, dari kontraktor Haeruddin yang diperkirakan berjumlah Rp1 miliar dan penerimaan itu pada awal Januari 2021 atas perintah dari Nurdin Abdullah.

Penerimaan ketiga itu dari kontraktor Veri Tandiari pada tahun 2021 dan atas perintah dari Gubernur Sulsel, pengambilan uang senilai Rp2,2 miliar itu dilakukan di rumah pribadi Veri Tandiari.

Pengambilan ke 4 dari kontraktor dari H Momo yang diduga uang disimpan dalam amplop dan disebutkan oleh Eks Kepala Biro Pengadaan Barang dan Jasa Pemprov Sulsel, Sari Pujiastuti saat bersaksi di sidang sebelumnya.

Ansar menyebutkan, penerimaan uang dari berbagai kontraktor tersebut adalah alat pelicin guna memudahkan mendapat proyek tersebut. Ini adalah fenomena lumrah dalam modus modus korupsi.

Kata Ansar, hampir semua proyek besar yang melibatkan kontraktor besar terjadi praktik suap seperti itu. Karenanya ia meminta agar pengusutan tak hanya menyentuh 4 kontraktor.

Melainkan lebih banyak kontraktor yang pernah mengerjakan proyek di era Nurdin.

"Wajib diseret semua. Pengusutannya harus melebar ke kontraktor lain. Saya kira tak terlalu sulit bagi KPK karena pintu masuknya sudah terbuka," tuturnya.

Ansar menyakini banyak kontraktor lain yang sudah menyerahkan fee ke Nurdin sebagai pemulus proyek tapi belum terungkap di persidangan. 

"Untuk menguak ini saya kira kami sangat mendukung niat Agung Sucipto (terdakwa pemberi suap NA) atas pengajuan Justice Collabolator. Ini bisa mengungkap semua. Termasuk kontraktor siapa lagi yang memberi fee ke Nurdin," sebutnya.

Editor : Muh. Syakir
#Gubernur Sulsel nonaktif Nurdin Abdullah #Suap Nurdin Abdullah #KPK #Laksus Sulsel
Berikan Komentar Anda
Epaper
Cover Epaper
Populer