Rabu, 23 Juni 2021 11:52

Soal Teka-teki Uang Rp337 juta di Rumah Edi Rahmat, BPK Bungkam

Ilustrasi (int)
Ilustrasi (int)

Jaksa KPK, Ronald Worotikan membenarkan ada temuan uang di rumah Edi. Namun keterangan yang tiba-tiba terkuak itu belum tentu benar.

MAKASSAR, PEDOMANMEDIA - Para auditur BPK Perwakilan Sulawesi Selatan diduga kuat telah dijanjikan sejumlah uang oleh Edi Rahmat. Edi mengaku menyiapkan masing-masing Rp 30 juta untuk semua auditor.

Hal itu terungkap saat Edi Rahmat bersaksi dalam perkara pemberi suap Agung Sucipto di Pengadilan Negeri Makassar, Kamis lalu.

Edi kala itu ditanyai terkait temuan uang Rp 337 juta di rumahnya oleh KPK sesaat setelah OTT dilakukan. Uang itu kata Edi ditempatkan di sebuah kamar bersama dengan uang Rp 500 juta dari Agung Sucipto.

Baca Juga

"Itu uang apa yang Rp 337 juta itu?," Tanya JPU pada Edi Rahmat.

Edi kemudian menjelaskan, bahwa uang itu merupakan uang yang diperuntukkan untuk pembayaran temuan auditur BPK Sulsel. Uang itu rencananya akan diserahkan kepada seseorang dari BPK Sulsel bernama Bilal.

"Kan ada temuan BPK pak itu mau dikasih Pak Bilal. Untuk beberapa orang auditur. 30 juta untuk setiap auditur," kata Edi.

Sementara itu Jaksa KPK, Ronald Worotikan membenarkan hal itu. Namun menurutnya keterangan yang tiba-tiba terkuak itu belum tentu benar.

"Yah, sesuai dengan apa yang saya tangkap dari kesaksian Edi. Uang yang sengaja dipisahkan itu merupakan uang untuk BPK perwakilan Sulsel yah. Katanya seperti itu. Katanya juga itu untuk temuan BPK," ujarnya.

Namun meski demikian kata Ronald, uang sebesar Rp 337 juta tersebut sesuai fakta sidang, uang itu ditemukan KPK di rumah Edy dan sengaja dipisahkan dari uang suap Agung Sucipto.

"Makanya nanti kita lihat, apakah uang itu benar untuk auditur BPK atau bukan? Atau malah uang itu juga merupakan uang suap," pungkasnya.

Sementara itu, coba dikonfirmasi, Pimpinan BPK Sulsel sendiri enggan merespons. Didatangi di kantornya pihak BPK Sulsel mengaku Humas BPK sementara tidak berada di kantor.

"Tidak ada di kantor pak orang humas," ujar salah seorang staf humas yang enggan diungkapkan namanya.

Mereka kemudian meninggalkan kontak telepon.

"Ini nomer kabag humas pak. Silakan dikontrak," ujarnya.

Hanya saja hingga saat ini kabag Humas juga enggan merespon. Berkali-kali coba dihubungi, Kabag Humas mematikan telepon dan tidak merespons permintaan klarifikasi yang diberikan PEDOMANMEDIA.

Penulis : Muh. Chaidir
Editor : Muh. Syakir
#Kasus Suap Nurdin Abdullah #KPK #BPK Perwakilan Sulsel
Berikan Komentar Anda
Epaper
Cover Epaper
Populer