Kamis, 12 Agustus 2021 09:02

Pelonggaran Setengah Hati, Ekonomi Bakal Lama Morat-marit

Ilustrasi (int)
Ilustrasi (int)

Jika situasi pandemi terus membaik, recoveri ekonomi akan lebih cepat. Tetapi jika terjadi anomali kasus, maka proses pemulihan juga akan alot.

MAKASSAR, PEDOMANMEDIA - Pemerintah sudah melonggarkan PPKM dengan membuka interaksi sosial. Namun para ekonom meyakini kebijakan ini belum sepenuhnya mampu mereduksi ekonomi yang morat-marit.

"Kita belum bisa melihat dampaknya secara positif. Kita akan melihatnya apakah pelonggaran ini cukup prospektif atau tidak. Butuh sebulan dua bulan," ujar pengamat ekonomi Asriadi Djamaluddin, Kamis(11/8/2021).

Menurut Asradi, jika situasi pandemi terus membaik, recoveri ekonomi akan lebih cepat. Tetapi jika terjadi anomali kasus, maka proses pemulihan juga akan alot.

Baca Juga

"Semua tergantung kondisi. Naik turunnya pandemi ini membuat ekonomi sulit stabil. Pembatasan sosial itu efeknya multi," paparnya.

Sebelumnya pada pengamat juga menilai pelonggaran hanya sedikit memberi dampak pada sektor ritel. Adapun pada industri dan jasa masih terjadi tekanan yang menyebabkan biaya operasional membengkak.

Namun dibanding PPKM darurat, pelonggaran ini sedikit memberi ruang pada usaha kecil dan menengah. Banyak jenis UMKM bisa mulai bangkit dengan toleransi waktu beroperasi yang lebih panjang.

"Karena tidak sedikit UMKM itu mengais pendapatan di malam hari. Kalau waktunya lebih longgar maka potensi market juga membaik. Sebaliknya pembatasan waktu operasi membuat UMKM kehilangan pangsa," ujar analis ekonomi Sjamsul Ridjal.

Sjamsul menganalisis, pada industri masih ada potensi negatif terjadinya PHK massal. Pasalnya upaya pemulihan industri bukan sekadar pada pelonggaran jam operasi. Tapi juga kebijakan sektoral.

Ia memprediksi Indonesia sulit mencapai proyeksi pertumbuhan ekonomi ideal jika PPKM diterapkan berkepanjangan. Sejumlah sektor penopang justru diramal melambat.

PPKM akan membuat sektor sektor penopang ekonomi tidak produktif. UMKM akan terdampak, industri sampai jasa juga ikut terimbas.

Kata Sjamsul, PPKM Darurat banyak membatasi pergerakan arus barang dan jasa. Sirkulas distribusi yang mengalami hambatan membuat biaya operasional naik dan memperlambat produktivitas.

Pada gilirannya, jika kondisi ini berkepanjangan akan memberi tekanan pada sektor usaha. Biaya operasional membangkak. Poduksi melemah dan akhirnya satu satunya upaya untuk tetap bertahan adalah memangkas karyawan.

"Ujungnya adalah pengurangan karyawan. Dan akan terulang kembali kondisi seperti tahun lalu saat terjadi PHK besar besaran," katanya.

Karena itu para pengamat tidak yakin pemerintah mampu mengembalikan prospek ekonomi tahun ini. Apalagi sampai menargetkan pertumbuhan di atas 7%.

Upaya terpenting sekarang adalah menjaga konsumsi. Jangan sampai kembali terpuruk dan memicu kembali resesi.

Editor : Muh. Syakir
#Pertumbuhan Ekonomi #Pandemi Covid-19 #Ekonomi
Berikan Komentar Anda