MAKASSAR, PEDOMANMEDIA - Moh Ramdhan Pomanto menjadi sasaran kampanye negatif di berbagai platform media sosial sebulan terakhir. Ia diserang dengan cap "pembohong".
Bagaimana efeknya terhadap elektabilitas Danny? Berikut analisis pengamat politik.
Direktur Nurani Strategic, Nurmal Idrus berpendapat, serangan terhadap Danny kemungkinan tak berdampak terlalu serius. Serangan seperti ini kata dia, biasa terjadi.
"Ini bagian dari upaya untuk menahan laju kenaikan keterpilihan lawan. Danny menjadi sasaran karena statusnya sebagai petahana dengan elektabilitas yang relatif masih unggul," kata Nurmal, Minggu (1/11/2010).
Soal bagaimana efeknya tergantung bagaimana mereka mengelola isu itu. Bisa berdampak kurang baik. Tapi juga bisa berbalik menjadi simpati kepada figur yang diserang.
"Bisa membuat posisi DP makin kuat di mata pemilih. Karena mereka kemungkinan akan menempatkan DP pada posisi sebagai figur yang terzalimi," jelasnya.
Danny diserang kampanye negatif sejak fase kampanye dimulai. Kinerjanya banyak dikritik. Ia dicap gagal merealisasikan sejumlah program di periode pertama.
Danny juga disoroti usai pernyataan kontroversialnya terkait Pilwali 2013. Danny dalam obrolan di sebuah kanal Youtube, menafikan campur tangan mantan Wali Kota Makassar Ilham Arif Sirajuddin saat ia memenangi Pilwali Makassar edisi lalu.
Pengakuan Danny ini memantik perang urat saraf dengan IAS. IAS bereaksi. Ia menuding Danny berbohong.
Para simpatisan Danny juga banyak terlibat perdebatan di medsos dan grup grup WA soal cap pembohong itu. Cap pembohong kemudian banyak dijadikan diksi untuk menyerang Danny.
Soal IAS, Nurmal menilai, tak bisa dipungkiri IAS masih punya magnet kuat. Tapi apakah berpengaruh besar terhadap kekuatan elektabilitas Danny, akan tampak nanti sebulan ke depan.
"Tentu saja beliau (IAS) masih punya kekuatan terutama bekas loyalis beliau dahulu. Tetapi tentu juga harus realistis diakui bahwa militansi terhadap IAS itu tak sama lagi karena munculnya figur baru yang menawarkan hal lebih," ucapnya.
Analis politik Juanda H Alim mengemukakan hal berbeda. Ia memprediksi, narasi "pembohong" bisa berdampak serius pada Danny. Pertama kata dia, diksi ini selalu diikuti oleh beberapa fakta fakta program yang tidak terealisasi di masa Danny.
"Serangan itu distruktur dengan baik karena digambarkan bagaimana program program itu tidak terwujud. Misalnya saja pete-pete smart dan program gendang dua. Ini selalu dinarasikan gagal. Dan faktanya ada," katanya.
Kedua, saat Danny menampik campur tangan IAS pada pilkada lalu itu juga bisa resistensi. Karena publik sebenarnya sudah tahu bagaimana realitas politiknya.
"Kan publik tahu IAS ada di belakang Danny saat merebut pilkada 2013. Danny yang berangkat dengan elektabilitas di bawah 5% bisa menang pilkada. Itu tak bisa dipungkiri ada tokoh di belakangnya. Ya publik tahunya kan IAS," papar Juanda.
Karena itu, kalau diksi ini terus digoreng kata Juanda, sedikit banyak pasti memengaruhi suara Danny. Satu bulan ke depan akan sangat menentukan seperti apa ujung dari kampanye kampanye negatif itu.
BERITA TERKAIT
-
Sosok Alwi Hamu di Mata Danny Pomanto: Pekerja Ulet-Penjaga Marwah Pers
-
Pengamat: Gugatan DIA dan INIMI ke MK Hanya untuk Menutupi Kehancuran Elektoralnya
-
Danny: 17 Lurah dan Sekcam tak Netral di Pilkada Berpeluang Dipecat sebagai ASN
-
Pesan Danny-Sudirman Usai Pilgub: Tetap Damai, tak Boleh Ada Gesekan
-
Quick Count Pilwalkot Makassar (22,40%): Appi-Aliyah 54,10%, Seto 28,04%, Indira-Ilham 13,18%