Minggu, 26 Desember 2021 19:12

Mengintip Komunitas LRI, Mengabdi untuk Anak Pemulung di TPA Antang Makassar

Komunitas LRI mengajar anak anak pemulung di TPA Antang.
Komunitas LRI mengajar anak anak pemulung di TPA Antang.

Meski para anggota komunitas LRI ini tidak semua berlatar belakang pendidikan, tak mengurungkan semangat untuk berbagi ilmu.

MAKASSAR, PEDOMANMEDIA - Relawan Komunitas Literasi Rating Ilmu (LRI) menghabiskan waktu mereka untuk mengajar anak-anak pemulung di Tempat Pembuangan Sampah (TPA) Antang, Makassar. Bukan profit yang mereka buru. Tapi pengabdian.

"Yang penting bisa mengabdi buat mereka. Anak anak pemulung ini begitu bersemangat menuntut ilmu. Meski di tengah tumpukan sampah," ujar Ketua Literasi Rating Ilmu, Rahmadina

Rahmadina mengungkapkan, banyak suka duka mengajar anak anak pemulung. Terutama karena keterbatasan sarana dan pola pikir orang tua mereka yang masih terbelakang.

Baca Juga

"Tapi kami tetap semangat. Tetap tegar mendampingi anak-anak TK, SD, dan yang belum sekolah pun untuk tetap belajar meraih ilmu," ujarnya.

Rahmadina mengatakan, Literasi Rating Ilmu merupakan komunitas sosial yang dibentuk sejumlah mahasiswa dari berbagai kampus. Uniknya mereka bukan berlatar belakang seorang pengajar atau pendidik.

"Jadi kami ini merupakan sebuah komunitas sosial yang bergerak di bidang pendidikan dengan beranggotakan dari berbagai kampus yang ada di Sulawesi Selatan," ungkap Dina sapaan akrab Rahmadina kepada PEDOMANMEDIA, Ahad (26/12/22)

Dina menjelaskan, bahwa ia turun langsung membantu anak-anak pemulung. Semua karena didorong oleh rasa keperihatinan terhadap para generasi. Agar mereka juga bisa mengenyam pendidikan lebih baik.

"Jadi jika kita melihat program pemerintah yang mewajibkan anak bangsa bersekolah minimal sampai SMA. Ternyata tidak semulus rencananya bagi para anak di Sulawesi Selatan khususnya di TPA Antang ini. Di TPA Antang ini bisa menjadi bukti, bahwa mirisnya kesadaran akan pentingnya pendidikan yang ada di Indonesia. Terutama di bagian Sulawesi Selatan itu kurang sekali," katanya

"Jadi inilah yang membuat kita turun langsung ke lapangan untuk menumbuhkan lagi semangat belajar adik-adik yang terbelakang akan pendidikan. Bahkan mungkin tak pernah tersentuh oleh pendidikan sama sekali," ujar Dina menambahkan.

Meski para anggota komunitas LRI ini tidak semua berlatar belakang pendidikan, kata Dina, pihaknya tak mengurungkan semangat untuk berbagi ilmu kepada para anak-anak yang ada di TPA Antang itu.

"Jadi meski kami-kami dari komunitas ini tidak semua berlatar belakang pendidikan atau tenaga pendidik, tapi dengan ilmu dan ketulusan yang disalurkan tentunya diharapkan dapat membantu para anak anak di TPA Antang untuk bisa lebih belajar atau mengenyam lagi yang namanya pendidikan," katanya

Lebih jauh, perempuan 22 tahun ini mengaku akan terus melakukan pendampingan untuk anak-anak di TPA Antang sampai mereka benar benar dapat menyeimbangkan antara pendidikan dan mencari uang.

Sebab status mereka sebagai pelajar yang nyambi memulung kadang mengesampingkan pendidikannya.

"Jadi tentunya ini akan kami terus dampingi. Karena anak-anak di TPA Antang ini sebenarnya banyak yang sudah bersekolah, hanya saja minat belajarnya yang kurang disebabkan bagi mereka lebih baik memulung bisa dapat uang dari pada sekolah tinggi-tinggi jika ujungnya hanya jadi pemulung," ujar Dina

"Mindsetnya ini yang akan kita coba ubah. Inilah sebenarnya tujuan dari Literasi Rating Ilmu ini. Hadir dengan program kelas berbagi, bermain dan belajar untuk sedikit demi sedikit merubah pandangan mereka bahwa pendidikan itu penting dan sangat berguna bagi masa depan apalagi generasi anak bangsa," imbuhnya.

Penulis : Supriadi
Editor : Muh. Syakir
#TPA Antang #Komunitas LRI
Berikan Komentar Anda