Omicron di Indonesia Memuncak Februari, tak Perlu Panik
Sebagian besar kasus yang terjadi berpotensi bergejala ringan. Pemerintah menyiapkan strategi yang berbeda dengan penanganan varian Delta.
JAKARTA, PEDOMANMEDIA - Kasus Omicron diprediksi akan memuncak di Indonesia pada awal Februari 2022. Namun, pemerintah meminta masyarakat tak perlu panik.
"Di saat memuncak nanti, kasus harian di DKI bisa sampai 21.000. DKI masih jadi episentrum," kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (Dirjen P2P) Kemenkes, dr Siti Nadia Tarmizi kepada wartawan, Selasa (11/1/2022).
Menurut Siti, perkiraan secara nasional, penambahan harian bisa mencapai 60 ribu kasus di Tanah Air. Namun rentang waktunya akan lebih singkat dibanding saat pandemi varian Delta pada Juli dan September lalu.
"Puncaknya di minggu pertama dan kedua. Bisa sampai 60.000 kasus sehari," ucapnya.
Siti mengatakan kondisi pandemi akan kembali normal 2 minggu setelah puncak berdasarkan pengalaman di negara lain. Dia pun meminta masyarakat untuk melakukan testing dini jika merasa sakit dan mengimbau warga tidak keluar negeri.
"Perkuat prokes, testing dini kalau merasa sakit, segera vaksinasi, tidak keluar negeri," jelasnya.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan prediksi puncak omicron itu berdasarkan hasil pengamatan terhadap pengalaman negara lain, di mana varian Omicron mencapai puncaknya dalam kisaran waktu 40 hari.
"Untuk kasus Indonesia, kita perkirakan puncak gelombang karena Omicron akan terjadi pada awal Februari," kata Luhut seperti dilansir Antara.
Meski begitu, lanjut Luhut, sebagian besar kasus yang terjadi berpotensi bergejala ringan. Sehingga pemerintah menyiapkan strategi yang berbeda dengan penanganan varian Delta.
Dia juga menuturkan saat ini Omicron telah teridentifikasi di 150 negara dan menimbulkan gelombang baru dengan puncak yang lebih tinggi di berbagai negara dunia. Di Indonesia, menurutnya bukan tidak mungkin mengalami hal serupa. Namun Luhut meminta masyarakat tidak perlu panik.
"Namun kita tidak perlu panik, tetapi kita tetap waspada. Karena pengalaman kita menghadapi Delta varian kemarin," ujarnya.
