Minggu, 08 November 2020 08:44

Respons Warga Soal Debat Pilwalkot Makassar: Calon Wawalinya Payah

Debat kandidat Pilwalkot Makassar tadi malam.
Debat kandidat Pilwalkot Makassar tadi malam.

Empat calon wawali tidak memberi keseimbangan pada kemampuan calon wali kota. Penguasaan pada substansi persoalan sangat terbatas. Akibatnya, yang keluar hanya argumentasi biasa. Tidak menyentuh akar persoalan.

MAKASSAR, PEDOMANMEDIA - Publik memberi respons beragam terhadap debat kandidat Pilwalkot Makassar malam tadi. Publik kebanyakan menyoroti kemampuan personal para calon wakil wali kota dari empat pasangan.

Empat calon wawali dinilai tidak menunjukkan karakter kuat. Penguasaan materi keempatnya juga dianggap masih tak maksimal.

"Biasa-biasa saja kelihatannya. Malah kalau saya jujur empat calon wawali itu masih payah," ujar Dr Badaruddin Sunggu, akademisi yang juga penulis buku "Bingkai Kita Dalam Demokrasi", Ahad (8/11/2020).

Baca Juga

Menurut Badar, empat calon wawali tidak memberi keseimbangan pada kemampuan calon wali kota. Penguasaan pada substansi persoalan sangat terbatas. Akibatnya, yang keluar hanya argumentasi biasa. Tidak menyentuh akar persoalan.

"Saya melihat Fadli punya retorika bagus tapi penguasaan materinya masih terbatas. Dia kewalahan mengaktualisasi persoalan," papar Badar.

Fatmawati juga tak bisa mengimbangi Danny. Secara retorika, Fatma terbatas. Begitu juga pada penguasaan materi, sama sekali tak menunjukkan kemampuan lebih baik.

None menunjukkan dominasi retorika di semua bidang yang didebatkan tadi malam. Akhirnya kelihatan Zunnun tenggelam dan hanya jadi penonton. Secara komunikasi politik kata Badar, None

terlalu mengumbar monopolinya. Ini membuat Zunnun kehilangan panggung.

Syamsul Arif, mahasiswa UIN Alauddin Makassar menilai debat tadi malam tak terlalu menarik. Pertama, program para calon wali kota relatif sama. Kedua, narasi pembangunan tidak bersifat konkret.

"Lebih banyak harapan-harapan saja. Ada beberapa program yang menarik di bidang transportasi. Tapi muluk muluk. Susah diwujudkan," ujarnya.

Transportasi berbasis massal dengan konsep modern, yang digagas None-Zunnun misalnya, secara konseptual bagus. Tapi implementasinya butuh waktu panjang. Sehingga menurut Syamsul, gagasan itu sulit diwujudkan dalam 5 tahun.

"Buktinya angkutan massal yang digagas sejak 2004 sampai sekarang nda kelihatan. Petepete smart yang digagas Danny juga

cuma retorika. Ada halte BRT dibangun tapi cuma pajangan. Nda berfungsi sebagaimana mestinya," katanya.

Aktivis perempuan Andi Tenri Farida juga memberi penilaian pada empat calon wawali. Menurut Tenri, calon wawali tidak punya panggung malam tadi. Mereka di bawah bayang-bayang calon wali kota.

Tenri juga menyoroti Fatma sebagai satu satunya kandidat perempuan. Ia melihat Fatma tidak power full.

"Harusnya dia (Fatma) punya panggung malam tadi. Karena dia satu satunya perempuan. Harusnya dia tunjukkan kemamluannya sebagai wakil perempuan. Tapi saya nda melihat itu," kata Tenri.

Karena itu di debat berikutnya Tenri berharap para wawali diberi ruang lebih luas. Agar benar benar terlihat kualitas mereka sebagai calon pemimpin.

Editor : Muh. Syakir
#Pilwalkot Makassar #Debat Kandidat
Berikan Komentar Anda