Sabtu, 19 Februari 2022 10:48

Dodol Aksata Bulukumba, Diproduksi Milenial, Kini Tembus Pasar Malaysia

Bupati Bulukumba Muchtar Ali Yusuf memuji produk Dodol Aksata buatan milenial.
Bupati Bulukumba Muchtar Ali Yusuf memuji produk Dodol Aksata buatan milenial.

Dodol Palioi adalah salah satu karya anak Bulukumba dengan kemasan yang sudah menarik

BULUKUMBA, PEDOMANMEDIA - Satu lagi produk penganan lokal Bulukumba yang menembus pasar mancanegara. Ya, adalah Dodol Aksata.

Dodol Aksata diproduksi milenial di Desa Benteng Palioi. Produk ini baru dirintis akhir 2021. Kini sudah menyentuh pasar Asia Tenggara, Malaysia.

Saat owner Aksata Dodol, Rahman memperkenalkan kepada Bupati Bulukumba Muchtar Ali Yusuf di sebuah kegiatan pelatihan beberapa hari yang lalu, Bupati berlatar pengusaha ini langsung merespons. Andi Utta, sapaan Bupati Bulukumba mengapresiasi kreativitas para pemuda desa.

Baca Juga

"Ini bagus. Sangat menginspirasi ini kreativitas anak anak muda," katanya.

Anak muda sudah mengembangkan produk yang selama ini menjadi penganan khas yang dibuat warga di desanya. Dodol Palioi adalah salah satu karya anak Bulukumba dengan kemasan yang sudah menarik dan penting untuk terus dikembangkan sehingga semakin dikenal sebagai ole-ole dari Bulukumba.

“Ini salah satu bentuk usaha dari adik-adik, anak-anak kita atau UMKM kita di desa untuk dipasarkan setiap hari. Apalagi dijadikan ole-ole di Bulukumba,” katanya memberi support.

Andi Utta mendukung anak muda yang punya kreativitas untuk terus mengembangkan usaha dengan potensi yang ada di sekitarnya. Seperti halnya produk dodol yang bahan bakunya ada di sekitar desa.

“Untuk itu saya meminta semua membantu bagaimana memasarkan dan meningkatkan nilai penjualan Dodol Aksata dan tentu pada semua produk UMKM di Bulukumba,” ajak Bupati Andi Utta.

Sementara itu, owner Aksata Dodol Palioi Rahman menuturkan awal mula dirintisnya usaha dodol tersebut berangkat dari latar belakang fenomena pandemi Covid-19 yang menjadikan ekonomi dalam kondisi menurun.

Olehnya itu melalui usaha dodol, Rahman mencoba untuk membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat Desa Benteng Palioi, utamanya anak muda dan ibu-ibu sehingga bisa mendapatkan penghasilan dari usaha yang dirintis bersama.

“Alhamdulillah, berkat program pemerintah dari Kementerian Ketenagakerjaan memberikan kami peluang untuk terwujudnya usaha ini dan dapat membuka rumah produksi Aksata Dodol Palioi,” jelas Rahman yang mengaku produksinya rata-rata 120 dos per hari.

Selain itu, Rahman mengaku bertekad ingin memperkenalkan dodol tradisional khas Desa Benteng Palioi ini hingga kancah nasional serta internasional. Namun untuk sementara pemesanan atau pembelian itu masih di rumah produksi di Desa Benteng Palioi karena masih menunggu label halalnya keluar.

Sekedar diketahui, selain Bulukumba pengiriman atau peredaran Dodol Aksata sampai saat ini sudah ada di Bantaeng, Jeneponto, Gowa, Makassar, Parepare, Kabupaten Luwu, kota Palopo, Toraja, Enrekang, Soppeng, Sinjai, Kendari, Kalimantan, Jakarta, Garut, Jawa Barat, dan Papua. Bahkan sudah dibawa ke Malaysia dan Arab Saudi.

Sementara untuk pemberian nama merek produknya sendiri yakni Aksata berasal dari bahasa sansekerta yang artinya tidak pernah putus atau lanjut terus.

Penulis : Saiful
Editor : Muh. Syakir
#Dodol Aksata Bulukumba #Bupati Bulukumba Andi Muchtar Ali Yusuf
Berikan Komentar Anda
Epaper
Cover Epaper
Populer