Senin, 21 Februari 2022 15:14

Jokowi Angkat Bicara Ketegangan Rusia-Ukraina: Perang Harus Dicegah

Joko Widodo
Joko Widodo

Jokowi menyebutkan, perang tak boleh terjadi. Ini akan menambah panjang problem global.

JAKARTA, PEDOMANMEDIA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) angkat suara soal keterangan di perbatasan Rusia dan Ukraina. Kepala negara menyerukan agar perang bisa dicegah.

"Rivalitas dan ketegangan di Ukraina harus dihentikan sesegera mungkin. Semua pihak yang terlibat harus menahan diri dan kita semua harus berkontribusi pada perdamaian. Perang tidak boleh terjadi," tulis Jokowi lewat akun Twitter seperti dilihat, Senin (21/2/2022).

Jokowi menyebutkan, perang hanya akan menambah panjang problem global dunia di tengah isu pandemi dan kelaparan. Seharusnya dunia bersinergi untuk keluar dari krisis.

Baca Juga

"Saatnya dunia bersinergi dan berkolaborasi menghadapi pandemi. Saatnya kita memulihkan ekonomi dunia, mengantisipasi kelangkaan pangan, dan mencegah kelaparan," tulisnya lagi.

Ketegangan di perbatasan Rusia-Ukraina meningkat dalam sepekan. Rusia telah mengerahkan lebih dari 150.000 tentara ke perbatasan.

Kedutaan Besar Amerika Serikat di Moskow, Rusia mengingatkan warga AS akan potensi serangan di tempat-tempat umum diRusia, termasuk di sepanjang perbatasan dengan Ukraina, di mana Rusia telah menempatkan pasukannya.

"Menurut sumber media, ada ancaman serangan terhadap pusat perbelanjaan, stasiun kereta api dan metro, dan tempat-tempat berkumpul umum lainnya di daerah-daerah perkotaan besar," kata Kedutaan Amerika Serikat dalam pernyataannya seperti diberitakan kantor berita AFP, Senin (21/2).

Dalam pernyataannya, Kedutaan AS menyebutkan ada risiko serangan di Moskow dan Saint Petersburg, serta di daerah-daerah ketegangan yang meningkat di sepanjang perbatasan Rusiadengan Ukraina.

Kedutaan AS mengingatkan warga AS di Rusia untuk "menghindari keramaian" dan "memiliki rencana evakuasi yang tidak bergantung pada bantuan pemerintah AS".

Selama berminggu-minggu, negara-negara Barat telah memperingatkan bahwa Moskow dapat meluncurkan serangan terhadap Ukraina sewaktu-waktu.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova mengkritik langkah tersebut di media sosial, menanyakan apakah pihak AS telah mengikuti protokol dengan pengumuman tersebut. "Apa yang harus kami lakukan dari ini?" cetusnya.

Kekhawatiran akan potensi invasi Rusia ke Ukraina saat ini meningkat setelah citra satelit terbaru menunjukkan sejumlah pengerahan baru tentara dan peralatan lapis baja dari garnisun-garnisun Rusia ke dekat perbatasan Ukraina. Pengerahan ini disebut mengindikasikan kesiapan militer Rusia yang meningkat.

Seperti dilansir Reuters, Senin (21/2), aktivitas terbaru itu terpantau saat Rusia memperpanjang latihan militer di Belarusia yang seharusnya diakhiri pada Minggu (20/1) waktu setempat. Hal ini semakin meningkatkan kekhawatiran di antara negara-negara Barat soal invasi Rusia ke Ukraina yang semakin dekat.

Perusahaan teknologi yang berkantor di Amerika Serikat (AS), Maxar Technologies, telah melacak pengerahan pasukan Rusia ke dekat perbatasan Ukraina selama berminggu-minggu. Namun citra-citra satelit terbaru yang dirilis Maxar itu belum bisa diverifikasi secara independen oleh Reuters.

"Aktivitas baru ini menunjukkan perubahan dalam pola pengerahan kelompok-kelompok tempur (tank, kendaraan angkut lapis baja, artileri dan peralatan pendukung) yang diamati sebelumnya," sebut Maxar dalam rilisnya pada Minggu (20/2) waktu setempat.

Citra-citra satelit yang dirilis Maxar pada Minggu (20/2) waktu setempat menunjukkan sebagian besar unit tempur dan peralatan pendukung di Soloti telah diberangkatkan. Disebutkan Maxar bahwa jejak kendaraan yang luas dan beberapa konvoi peralatan lapis baja juga terpantau di seluruh area tersebut.

Editor : Muh. Syakir
#Perang Rusia-Ukraina #Presiden Jokowi
Berikan Komentar Anda