Proyeknya Disorot, Kepala Lembang Ratte Tator Ancam Wartawan PEDOMANMEDIA
"Awas kau coba-coba datang lagi di sini lagi. Saya hantam betul kau itu,"
TATOR, PEDOMANMEDIA - Kepala Lembang Ratte, Tana Toraja, Septianto Sambo Ma’dika mengancam wartawan PEDOMANMEDIA usai diberitakan terkait proyek rabat beton yang dikerjakannya.
PEDOMANMEDIA pada edisi 5 Oktober 2022 menurunkan tulisan berjudul 'Proyek di Lembang Ratte Tator Disorot, Gunakan Pasir Campur Lumpur'.
Septianto tak memberi klarifikasi atas berita ini. Via telepon siang tadi ia menghubungi wartawan PEDOMANMEDIA di Tana Toraja. Ia melontarkan kalimat bernada ancaman.
"Mamang kau kurang ajar sekali. Kenapa kau kasih masuk di berita itu saya punya pekerjaan. Nanti saya laporkan balik kau. Kau datang di sini diam-diam ambil data tidak datang di rumah. Awas kau coba-coba datang lagi di sini lagi. Saya hantam betul kau itu," bentaknya.
Wartawan PEDOMANMEDIA pun mencoba meminta klarifikasi atas berita itu. Tapi Septianto makin emosi.
"Jangan sok pahlawan kau. Saya hantam betul kau itu na. Saya ingatkan ko itu okey," ketus Septianto lalu menutup telepon.
Sebelumnya proyek rabat beton di Lembang Ratte, Tana Toraja menuai disorotan. Pasalnya proyek yang dialokasikan dari dana desa ini diduga menggunakan material 'oplosan'.
Material pasir yang dipakai bercampur lumpur. Proyek ini menelan anggaran Rp103 juta.
Dari pantauan PEDOMANMEDIA, tampak pasir yang digunkan terlihat kuning dan bercampur dengan lumpur. Lumpurnya bahkan terlihat lebih dominan.
Ketua tim pelaksana teknis kegiatan (TPK) Nober, tak menampik bahwa kualitas material yang mereka pakai memang sangat rendah. Pasirnya bercampur dengan lumpur.
"Mau diapa pak kalau itu ji pasir yang murah dan kebetulan ada di kampung kami. Ya mau tidak mau itu yang harus kita pakai. Terus terang yang di RAB itu yang kualitasnya yang bagus bukan pasir seperti itu," ungkap Nober, Selasa (4/10/2022).
Nober mengatakan, selain material yang tak tersedia, harga pasir bercampur lumpur itu juga relatif murah.
"Di sini beda jauh dengan pasir dari luar. Ini lebih murah harganya. Di RAB Rp600 ribu tapi di sini kami beli hanya Rp500 per mobil sampai di lokasi. Jadi adalah sedikit keuntungannya kita," terang Nober.
Nober juga mengungkapkan bahwa proyek ini diborongkan ke masyarakat. Meski itu melanggar aturan, tapi menurutnya itu terpaksa dilakukan agar tak merugi.
"Sebenarnya kalau kita bicara aturan tidak boleh karena memang dana desa tidak boleh di borongkan. Namun karena biasanya kita rugi kalau tidak diborongkan, di mana mau diambilkan dana kalau dananya kurang. Makanya kita borongkan saja sesuai yang ada di RAB Rp10 juta per patok dan ini 2 patok jadi 20 juta semua," bebernya.
- 1
- 2
- 3
- 4
- 5
