Alun-alun Rantepao Telan Rp5,8 M, Laksus: Tak Rasional, Harus Diusut
Ini agar ada parameter jelas apakah benar terjadi penyimpangan anggaran atau tidak.
TORUT, PEDOMANMEDIA - Lembaga Antikorupsi Sulawesi Selatan menilai, anggaran alun alun Rantepao, Toraja Utara terlalu fantastis. Aparat penegak hukum didorong segera mengusut indikasi penyimpangan dalam proyek ini.
"Kami melihat ada penggunaan anggaran yang tak rasional. Proyek alun alun terlihat tidak maksimal. Antara anggaran dan progres bangunan ada ketimpangan," ujar Direktur Laksus Muhammad Ansar, Selasa (14/2/2023).
Menurut Ansar, perlu dilakukan telaah terhadap proyek alun alun ini. Alasannya, pertama, ada ketidaksesuaian antara desain awal dengan bangunan yang ada sekarang.
"Di awal desainnya sangat menarik. Tapi setelah dikerja kita melihatnya berbeda. Karenanya perlu ada telaah lebih lanjut untuk memastikan itu," papar Ansar.
Ansar meminta telaah dilakukan dengan cermat. Ini agar ada parameter jelas apakah benar terjadi penyimpangan anggaran atau tidak.
"Dengan begitu kita bisa melihat di mana letak perbedaannya. Sebab ketika ada perbedaan desain dan bangunan, artinya bisa diindikasikan terjadi penyimpangan anggaran," tandas Ansar.
Untuk memastikan semua itu, Ansar mendorong penegak hukum melakukan pengusutan. Menurutnya, proyek ini memang patut diatensi. Karena disiapkan menjadi ikon baru Toraja Utara.
"Jangan sampai kita siapkan jadi ikon tapi justru terjadi penyimpangan," imbuh Ansar.
DPRD Minta Dilakukan Audit
Sebelumnya pembangunan proyek alun-alun Kota Rantepao juga menuai sorotan dari Ketua DPRD Toraja Utara Nober Rante Siama.
Nober menyebut, desain alun-alun kota mirip dengan kuburan dan tidak memiliki nilai seni. Nober menyalahkan Bupati Yohanis Bassa (Ombas) yang tidak protektif terhadap proyek ini.
"Ketika kita mang dipertontonkan suatu video animasi bahwa beginilah nanti bentuk dari alun-alun kota Rantepao. Animasinya bagus. Meyakinkan. Tapi, setelah kami ke sana kok mengecewakan. Malah mirip kubungusutran," ucap Nober kepada PEDOMANMEDIA, Kamis (19/1/2023).
Menurutnya, sebagai ikon baru Toraja Utara, alun-alun harusnya didesain lebih mengedepankan estetika. Bagaimana pun juga bangunan monumental itu yang pertama dilihat adalah nilai nilai seninya.
"Tapi bagaimana mau menarik wisatawan kalau modelnya seperti itu. Kalau kita tidak pernah kagum dengan suatu bangunan ber arti nilai seninya tidak ada," ketusnya.
Nober menilai, desain alun alun tidak sebanding dengan nilai anggarannya.
"Di sana yang kelihatan hanya kotak - kotak kemudian ditempelkan dengan keramik biasa. Sesuatu yang ditempel seperti itu yang saya lihat hanya 2. Kalau bukan kuburan bak air. Kenapa mereka tidak gunakan batu alam supaya ada nilai seninya. Artinya di sini konsultan perencanaannya kurang matang, dan kurang memahami nilai seni," Kata Nober.
Karena itu Nober merekomendasikan audit menyeluruh terhadap proyek ini. Ia melihat ada sisi yang tidak rasional antara desain dan nilai anggaran.
Nober juga mempertanyakan komitmen Pemkab dalam memberdayakan pedagang. Sebelum akun alun dibangun ada sejumlah pedagang yang tergusur.
"Nah bagaimana nasib mereka ke depan. Mereka diusir begitu saja tanpa difasilitasi tempat untuk mereka tempati menjual. Sampai sekarang kita tidak tahu nasib mereka seperti apa," tegas Nober.
Pelaksana proyek alun-alun kota Rantepao diberi deadline hingga Februari 2023 untuk menyelesaikan pekerjaannya. Jika tenggat waktu itu tak bisa dipenuhi, pemkab akan melakukan pemutusan kontrak.
"Diberikan kesempatan itu sampai 50 hari ke depan atau sampai Februari. Harus selesai tanggal 19 Februari. Kapan tidak selesai putus kontrak," kata PPK proyek ini, M Tahir, Senin (16/1/2023).
Proyek alun alun kota bersumber dari anggaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, (APBD), melalui Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Dinas Perkimtan) dengan nilai kontrak Rp5,8 miliar. Proyek dikerjakan oleh PT Sulpi Sukses Abadi.
Tahir menjelaskan, progres pencairan anggaran sudah mencapai 57% atau Rp2 miliar lebih dari total anggaran. Namun untuk saat ini bobot pengerjaannya juga sudah naik sekitar 75%.
"Progres pencairannya itu sudah mencapai 57%. Saya tidak tahu pastinya sudah berapa, kemarin itu sudah 75% tapi progres pekerjaannya itu sudah naik lagi," ungkap Tahir.
- 1
- 2
- 3
- 4
- 5
