Rabu, 13 Januari 2021 18:43

MoU Keuskupan Agung Merauke-Perusahaan Kelapa Sawit Picuh Kemarahan

Hutan di Merauke yang dijadikan lahan sawit.
Hutan di Merauke yang dijadikan lahan sawit.

Para pengunjuk rasa mengatakan mereka merasa terpinggirkan dengan kehadiran perusahaan kelapa sawit, PT Tunas Sawa Erma, dan penggundulan hutannya, mengatakan kerja sama ini menunjukkan bahwa Keuskupan Agung tidak peka terhadap perjuangan mereka.

MERAUKE, PEDOMANMEDIA - Keuskupan Agung Merauke di Papua, Indonesia, menerima miliaran rupiah melalui kerja sama dengan perusahaan kelapa sawit yang kontroversial terhadap lingkungan. Hal itu mengakibatkan protes keras dari umat Katolik di Merauke Papua.

Para pengunjuk rasa mengatakan mereka merasa terpinggirkan dengan kehadiran perusahaan kelapa sawit, PT Tunas Sawa Erma, dan penggundulan hutannya, mengatakan kerja sama ini menunjukkan bahwa Keuskupan Agung tidak peka terhadap perjuangan mereka.

Uskup Agung Petrus Canisius Mandagi menandatangani MoU pada 5 Januari dengan manajer firma tersebut, anak perusahaan Korindo Group dan usaha patungan Indonesia dan Korea Selatan. Perusahaan menyerahkan 800 juta rupiah (US $ 56.600), bagian dari komitmen senilai Rp2,4 miliar yang akan diberikan secara bertahap selama tiga tahun. Perusahaan juga akan memberi keuskupan agung Rp20 juta sebulan selama tiga tahun.

General Manager Perusahaan Jimmy Yonesendu mengatakan donasi tersebut merupakan bagian dari strategi tanggung jawab sosial perusahaan.

Korindo Group dituduh merusak sebagian besar hutan hujan di Kabupaten Merauke untuk membuka jalan bagi perkebunan kelapa sawit. 

Menurut laporan bersama yang dirilis oleh Greenpeace Indonesia dan Arsitektur Forensik pada bulan November, Dongin Prabhawa, salah satu anak perusahaannya, telah menghancurkan 57.000 hektar hutan hujan, berdasarkan temuan mereka tentang kebakaran hutan yang ditangkap pada citra satelit NASA antara tahun 2011 dan 2016.

Uskup Agung Mandagi mengatakan, keuskupan agung membutuhkan kontribusi keuangan dari berbagai pihak termasuk perusahaan kelapa sawit untuk mendanai layanan, termasuk pembangunan seminari kecilnya. 

Namun, katanya, Gereja akan terus bekerja sama dengan perusahaan kelapa sawit untuk memastikan mereka memprioritaskan dan memelihara praktik lingkungan yang berkelanjutan.

“Perusahaan bisa bekerja, tapi harus memperhatikan kelestarian lingkungan demi anak dan cucu kita,” kata Uskup Agung Mandagi.

Sementara itu, Frederika Korain, seorang pengacara Hak Asasi Manusia (HAM) mengatakan langkah keuskupan agung itu menunjukkan bahwa Gereja tidak peduli terhadap orang Papua yang kehilangan tanah akibat perluasan perkebunan kelapa sawit dalam jumlah hektar yang besar.

"Konflik sering terjadi karena kehadiran perusahaan kelapa sawit di Papua, termasuk di Keuskupan Agung Merauke," katanya.

Penulis : Jackson Ikomou
Editor : Jusrianto
#Keuskupan Agung Merauke #Kelapa Sawit
Berikan Komentar Anda