Jumat, 16 April 2021 07:02

Kenaikan CHT tak Turunkan Perokok Anak, Aktivis Kritik Pragmatisme Pemerintah

Ilustrasi (int)
Ilustrasi (int)

Jadi untuk menghentikan populasi perokok jalannya tak parsial. Harus ada kebijakan komprehensif.

JAKARTA, PEDOMANMEDIA - Kenaikan cukai hasil tembakau (CHT) efektif berlaku 1 Februari lalu. Kenaikan CHT diikuti oleh kenaikan harga rokok. Sayangnya kenaikan CHT tak banyak menurunkan prevalensi perokok anak.

Karenanya pemerintah kembali mengkaji skema kenaikan CHT. Namun Kementerian Keuangan masih menggodok hasilnya.

Kenaikan harga rokok sebelumnya diumumkan pemerintah sejak Desember lalu. CHT ditetapkan naik 12,5 persen. Sementara harga rokok per batang naik bervariasi berdasarkan golongan. Kenaikan ada di angka 12,5 persen hingga 18 persen.

Baca Juga

Salah satu alasan pemerintah menaikkan harga rokok agar tak terbeli. Dengan begitu angka prevalensi perokok anak dan perempuan bisa ditekan.

Menkeu Sri Mulyani Indrawati beberapa waktu lalu mengungkapkan saat ini prevalensi merokok untuk anak-anak usia 10-18 tahun akan diturunkan sesuai dengan RPJMN menjadi 8,7% pada 2024. Kenaikan cukai hasil tembakau ini akan menyebabkan rokok jadi lebih mahal. Atau affordability indeksnya naik jadi 12,2% jadi 13,7%-14% sehingga makin tidak dapat terbeli.

Kebijakan cukai rokok naik dari sisi kesehatan diharapkan akan mengendalikan konsumsi rokok. Menurunkan prevalensi merokok terutama pada anak anak dan perempuan. Prevalensi merokok secara umum dari 33,8% jadi 33,2% pada 2021.

Sementara itu besaran harga jual eceran rokok di pasaran bakal berbeda-beda. Harganya akan disesuaikan dengan kenaikan tarif cukai dari masing-masing kelompok rokoknya.

Sementara aktivis perempuan Andi Tenri Farida menilai remaja dilarang merokok hanya sebatas etika saja. Bukan pelanggaran hukum. Tidak ada remaja yang dihukum karena merokok. Ini masalahnya.

Mungkinkah harga tinggi menghentikan orang merokok? Mungkin ya. Mungkin juga tidak.

"Asumsinya bisa dua. Pertama jika tak terbeli orang mungkin saja berhenti. Karena rokok akan jadi barang mahal. Tidak terjangkau. Dan akhirnya oleh sebagian orang memilih berhenti," katanya.

Kedua, harga bisa saja bukan alasan untuk berhenti. Karena rokok bukan soal mahal dan murah. Tapi soal kebutuhan.

Cukai hasil tembakau (CHT) memang sengaja dinaikkan sebagai bagian dari skema menaikkan harga rokok demi menekan populasi perokok anak dan kaum perempuan. Kenapa demikian? Karena bangsa ini sudah lama hidup dengan rokok.

Bangsa ini juga banyak menggantungkan pundi-pundi ekonomi dari tembakau. Rokok sudah beberapa dekade menjadi penyangga pajak. Jadi bukan hanya soal orang merokok itu nikmat.

Tapi negara juga menikmatinya sampai di sini. Kalau kita sulit berhenti, itu karena kita memang bangsa perokok.

Kedua kata Tenri, sebenarnya soal efektif tidaknya tergantung regulasi. Kalau sekadar menaikkan harga dengan tujuan agar tak terbeli, tidak banyak menekan jumlah perokok.

Faktanya, dari hasil penelitian populasi perokok usia remaja dan kaum perempuan tumbuh di atas 5 persen per tahun. Padahal, setiap tahun harga rokok juga naik.

"Ini memberi gambaran, secara simultan grafik perokok tak terpengaruh banyak oleh kenaikan harga. Rokok lebih pada pemenuhan psikologis," jelasnya.

Menurutnya, dibanderol berapapun rokok pasti tetap terjangkau. Karena orang merokok lebih banyak dipengaruhi oleh pemenuhan psikologi. Mereka ketagihan. Dan itu berlanjut karena regulasi pelarangan rokok lemah.

Berdasarkan data saat ini prevalensi merokok untuk anak-anak menjangkau usia 10-18 tahun. Pemerintah menargetkan bisa diturunkan sesuai dengan RPJMN menjadi 8,7% pada 2024.

Salah satu upaya menekan angka itu yakni dengan kenaikan cukai hasil tembakau. Kenaikan CHT akan menyebabkan rokok jadi lebih mahal. Affordability.

Jadi untuk menghentikan populasi perokok jalannya tak parsial. Harus ada kebijakan komprehensif. Artinya, penanganan masalah benar benar diurut dari hulu ke hilir.

 

Editor : Muh. Syakir
#Populasi Perokok Anak #Harga CHT Naik #Menkeu Sri Mulyani
Berikan Komentar Anda