Top Sepekan: SYL Masuk Daftar Terdepak, Judi Sabung Ayam Disorot di Torut
Top sepekan menempatkan isu reshuffle dalam daftar berita terhangat. Lalu disusul penanganan judi sabung ayam di Torut.
JAKARTA, PEDOMANMEDIA - Top Sepekan menempatkan isu reshuffle kabinet pada rating tertinggi bersama satu berita lokal dari Toraja Utara. Yakni soal fenomena penanganan judi sabung ayam.
Untuk isu reshuffle menjadi hangat di Sulsel karena nama Mentan Syahrul Yasin Limpo masuk dalam daftar terdepak. Mendikbud Nadiem Makarim juga masuk dalam daftar menteri kabinet yang bakal direshuffle. Sejumlah figur menguat menggantikan Nadiem.
Nama Abdul Mu'ti salah satunya. Kader senior Muhammadiyah itu kembali diusul banyak pihak masuk kabinet. Mu'ti digadang mengisi pos Mendikbud.
"Saya kira sangat layaklah beliau di posisi itu (Mendikbud). Basic beliau kan memang di sana. Saya kira sangat layak," terang Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah, Sunanto, Rabu (14/4/2021).
Sunanto mengatakan, Mu'ti adalah seorang pendidik. Ia memiliki kualifikasi cukup di bidangnya.
"Mas Mu'ti punya histori yang jelas untuk pos itu. Dia tahu bagaimana mengubah wajah pendidikan kita," katanya.
Nadiem sendiri banyak diusul diganti karena dianggap gagal mengangkat sektor pendidikan Indonesia. Nadiem dinilai tak punya terobosan. Terutama saat pembelajaran daring harus dijalani siswa akibat pandemi.
Isu reshuffle mengemuka seiring dengan rencana peleburan Kemenristek ke Kemendikbud dan pembentukan Kementerian Investasi. Di sisi lain, muncul juga dorongan evaluasi menteri lain.
Salah satu menteri yang dinilai layak diganti adalah Nadiem Makarim. Sebagian pihak menilai Abdul Mu'ti menjadi sosok yang cocok mengisi pos Kemendikbud-Ristek.
Sebetulnya Presiden Jokowi pernah hampir mengangkat seorang wakil Mendikbud. Namun tawaran yang dialamatkan ke Sekum PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti tersebut ditolak.
Isu reshuffle kabinet berembus setelah Presiden Joko Widodo mengisyaratkan membentuk satu lagi kementerian. Bocoran terbaru menyebut bakal ada lima menteri yang terdepak.
"Saya rasa jelas ya siapa-siapa. Terlihat pada kinerja para menteri itu. Siapa yang layak dipertahankan siapa tidak," ujar Ketua Jokowli Mania (Joman) Immanuel Ebenezer.
Noel sapaannya mengungkapkan, ia punya versi mengenai menteri-menteri yang memungkinkan terdepak. Ada setidaknya 5 menteri yang dianggap layak masuk daftar reshuffle.
Mereka adalah Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, Menteri Agraria Sofyan Djalil, Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G Plate, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi, serta Menteri Sekretaris Negara Pratikno. Syahrul sendiri telah sejak beberapa bulan lalu diusulkan oleh Noel untuk diganti.
"Iya Mentan ini tidak memenuhi harapan publik. Padahal kan ini sektor paling urgen. Saya rasa ini salah satu pos yang paling dipertimbangkan Jokowi," jelas Noel.
Noel juga memberi penilaian terhadap kinerja Mendag. Mendag Muhammad Lutfi
dinilai bekerja di luar skenario Presiden. Terutama saat kebijakan impor beras tidak mengacu pada instruksi kepala negara.
"Begitu juga Menkominfo kita melihat kinerjanya masih melempem. Dan terakhir Pratikno saya rasa jangan dipertahankan lagi," katanya.
Sementara dari kasus sabung ayam di Toraja Utara, Ketua Badan Pekerja Sinode (BPS) Gereja Toraja Musa Salusu mengaku didatangi intelijen usai kritik pedasnya terhadap Polres Toraja Utara. BPS mengkritik kinerja kepolisian setempat dalam menangani judi sabung ayam.
"Iya, ada datang klarifikasi. Dia pertanyakan kritik saya terhadap Polres soal judi sabung ayam. Saya bilang iya benar, saya memang menyoroti cara polisi menangani masalah ini," ungkap Musa Jumat (14/4/2021).
Musa mengatakan dua orang yang datang adalah pihak intelijen Polres Torut. Mereka mempertanyakan dasar BPS menyoroti penanganan judi sabung ayam.
"Saya jelaskan semuanya bahwa yang saya sampaikan adalah keresahan publik. Masyarakat resah karena judi sabung ayam marak, dan terkesan tidak ada tindakan tegas," paparnya.
Kedua intelijen itu adalah utusan Kapolres Torut. Mereka kata Musa, menyampaikan rencana kapolres menemuinya. Namun rencana hari itu batal karena kapolres harus menemani tamu dari Polda Sulsel.
"Pak Kapolres mau datang tapi katanya ada tamunya dari Polda. Jadi tidak sempat. Tapi baru-baru Pak Kapolres WA saya katanya hari Senin beliau mau ketemu kami. Saya minta hari Senin jam 9," tambahnya.
Kasus ini juga sudah mendapat respons Polda Sulsel. Polda berjanji memberi atensi terhadap keresahan warga ini.
"Terima kasih atas masukannya. Kita akan atensi," jawab Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol E Zulpan saat ditanya terkait polemik pembiaran judi sabung ayam di Torut, Jumat (16/4/2021).
Zulpan belum memberi keterangan lebih jauh. Namun ia menegaskan, laporan ini akan jadi perhatian Polda Sulsel.
Polemik penanganan judi sabung ayam kian menghangat di Torut setelah
Badan Pekerja Sinode (BPS) Gereja Toraja bereaksi keras. BPS menyoroti kinerja Polres Torut yang dinilai tak optimal menangani kasus ini.
"Kita ikut prihatin karena ini masih terjadi di masyarakat. Seharusnya kan aparat lebih tegas. Jangan sampai ada pembiaran," jelas Musa Salusu.
Musa memberi penilaian atas kinerja dua Polres di Toraja dalam menangani judi sabung ayam dan adu kerbau. Keduanya, Polres Tana Toraja dan Polres Toraja Utara
Ia menilai, pola penanganan kedua institusi ini jauh berbeda. Polres Tator tampak lebih agresif. Sehingga judi sabung ayam dan kerbau di daerah itu bisa diberantas dalam setahun terakhir.
"Di Tana Toraja penegak hukum tegas menindak judi sabung ayam, sehingga tidak ada berkeliaran. Kita apresiasi kinerja Kapolres (AKBP Sarly Sollu)," ujar Musa.
Berbeda dengan yang ditunjukkan Polres Torut. Polres Torut menurut Musa terkesan masih tebang pilih.
"Akhirnya kita lihat masih marak judi sabung ayam dan judi kerbau di Torut. Ini mengkhawatirkan kita. Kalau tidak ditangani dengan serius kan bisa menimbulkan masalah sosial di masyarakat," katanya.
Musa juga mengatakan bahwa seharusnya Polres Torut belajar pada Polres Tator cara mencegah judi sabung ayam.
"Mungkin malu lah pihak Polres Torut kalau saya katakan silakan ke Tana Toraja caranya basmi judi sabung ayam," bebernya.
Musa mengatakan bahwa adat dan budaya tidak bisa dijadikan alasan untuk bermain judi di dalamnya.
"Judi tetap judi. Kalau misalnya penegak hukum itu tidak bisa tegas yah di situlah masalahnya," ujarnya.
