Senin, 03 Mei 2021 18:33

Gelar Unjuk Rasa Dengan Bertopeng, AJI Makassar: Stop Kekerasan Terhadap Jurnalis

Sejumlah jurnalis bersama Aliansi Jurnalis Independen menggelar aksi bertopeng memperingati hari kebebasan pers sedunia di Urip Sumoharjo (ist)
Sejumlah jurnalis bersama Aliansi Jurnalis Independen menggelar aksi bertopeng memperingati hari kebebasan pers sedunia di Urip Sumoharjo (ist)

Ketua AJI Makassar, Nurdin Amir mengatakan tahun ini laporan kekerasan terhadap jurnalis di Indonesia tercatat ada 90 kasus. Meningkat dari tahun sebelumnya yakni 57 kasus. Sementara itu untuk skala lokal, kasus Darwin Fatir pada 2019 lalu belum juga diselesaikan.

MAKASSAR, PEDOMANMEDIA - Hari kebebasan pers sedunia turut direspon Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Makassar dengan menggelar unjuk rasa 'topeng hitam', di Fly Over, Jalan Urip Sumoharjo, Senin (3/5/2021).

Sejumlah jurnalis Makassar, baik TV, Cetak maupun daring terlihat kompak mengangkat spanduk seruan aksi, bertuliskan Stop kekerasan terhadap Jurnalis. Mereka juga menggunakan topeng hitam dengan ekpresi wajah murung, sebagai simbol jurnalis belum mendapatkan kebebasan dan kerap mendapatkan intimidasi, teror dan kekerasan fisik.

Ketua AJI Makassar, Nurdin Amir mengatakan tahun ini laporan kekerasan terhadap jurnalis di Indonesia tercatat ada 90 kasus. Meningkat dari tahun sebelumnya yakni 57 kasus.

Sementara itu untuk skala lokal, kasus Darwin Fatir pada 2019 lalu belum juga diselesaikan. Olehnya mengapa kami menggelar aksi ini.

"Pada dasarnya unjuk rasa ini adalah untuk memperingati hari kebebasan pers sedunia. Kita sendiri di Makassar banyak kasus kekerasan terhadap jurnalis yang kami temukan. Tapi tidak ada satupun yang naik hingga di persidangan termasuk kasus Darwin Fatir," ujar Nurdin Amir.

Catatan AJI Makassar dan LBH Pers Makassar, kasus kekerasan yang menimpa Darwin dkk pada tahun 2019. Penyidik menetapkan 4 oknum polisi sebagai tersangka kasus dugaan kekerasan jurnalis pada tanggal 26 Februari 2020.

“Namun, kasus ini hanya mengendap di penyidik Polda Sulawesi Selatan. Tidak ada proses hukum selanjutnya. Pembiaran ini mengusik rasa tidak adil kepada korban. Kami minta kasus ini ditindaklanjuti dan harus disidangkan di pengadilan,” ujar Ketua AJI Makassar, Nurdin Amir.

Sejak 2020 hingga akhir April 2021, tren represi terhadap jurnalis tak hanya menimpa secara luring tapi meluas ke daring. Ini membuat jurnalis menghadapi tantangan yang makin kompleks di masa pandemi dan ruang aman yang kian menyempit.

Data AJI menunjukkan dalam rentang Mei 2020-akhir April 2021, telah terjadi 14 kasus teror berupa serangan digital. Jumlah itu meliputi 10 jurnalis yang menjadi korban dan empat situs media online. Sedangkan apabila dilihat dari jenis serangannya yakni 8 kasus doxing, empat kasus peretasan, dan dua kasus serangan distributed denial-of-service (DDos).

Kekerasan seksual juga belum menjadi perhatian. Berdasarkan data Survei Kekerasan Seksual di Kalangan Jurnalis yang dilakukan oleh AJI Jakarta pada tahun 2020, terdapat 25 jurnalis yang pernah mengalami kekerasan seksual. Bahkan berdasarkan data tersebut, tak sedikit dari korban yang mengalami kekerasan berulang atau lebih dari satu kali.

“Di Makassar, AJI mendapat laporan kasus kekerasan seksual yang menimpa jurnalis perempuan di kantor pelayanan pemerintahan Kota Makassar saat bertugas. Hal ini membuat rasa trauma bagi korban. Namun, kasus ini tidak ditindaklanjuti pihak terkait,” ungkap Nurdin.

Pelaku terbanyak dari kekerasan seksual tersebut adalah narasumber pejabat publik, narasumber non pejabat publik, dan rekan kerja. Rekan kerja yang menjadi pelaku yakni atasan, rekan sekerja sekantor non atasan, dan rekan sesama jurnalis dari media yang berbeda.

 

Penulis : Hasan
Editor : Muh. Chaidir
#AJI Makassar #Unjuk rasa #Kekerasan Jurnalis #Kasus Kekerasan Jurnalis
Berikan Komentar Anda
Epaper
Cover Epaper
Populer