PPKM Kian Longgar, Pengusaha Ramal Dalam 4 Bulan Bisnis Pulih
PPKM membuat interaksi usaha melambat. Banyak sektor terpaksa menurunkan produktivitas karena pembatasan yang terlalu mengekang.
MAKASSAR, PEDOMANMEDIA - Kalangan pengusaha di Kota Makassar mulai mengakui pelonggaran PPKM dalam tiga pekan memberi efek positif. Mereka yakin situasi ini akan berangsur pulih dalam 4 bulan mendatang.
"Ya kira kira 4 bulanlah. Yakin bisnis pulih lagi. Yang penting nda ada lagi PPKM level 4," ujar Ryadi, pengusaha rumah makan kepada PEDOMANMEDIA, Kamis (7/10/2021).
Ryadi yakin dalam 4 bulan situasi ekonomi akan membaik. Terutama usaha-usaha di sektor padat karya.
Ryadi mengatakan, seharusnya PPKM memang tidak perlu terlalu jauh membatasi aktivitas usaha. Cukup dengan menerapkan prokes ketat.
"Kalau jam operasi yang dibatasi riskan sekali. Jadi dampaknya terasa sekali," ucapnya.
Menurutnya, selama PPKM, sektor usaha kehilangan waktu operasi yang hampir setengah dari hari-hari normal. Artinya, dalam hitung-hitungan ekonomi, ini telah memangkas setengah dari pendapatan normal.
"Wajar kan kalau banyak karyawan dirumahkan. Mau apa lagi. Pendapatan turun. Untuk menyelamatkan usaha ya harus PHK," ungkapnya.
Ryadi juga menilai PPKM membuat interaksi usaha melambat. Banyak sektor terpaksa menurunkan produktivitas karena pembatasan yang terlalu mengekang.
"Kami saja rumah makan sebelum PPKM
rata-rata siapkan 100 sampai 150 porsi per hari. Saat PPKM turun jadi 50 porsi. Ini terasa sekali," ungkapnya.
Pemerhati ekonomi juga menilai kebijakan ini akan lambat laun mematikan banyak sektor. Karena itu, mereka sepakat PPKM tak lagi menyasar sektor usaha.
"Dampaknya sangat konkret. Ekonomi kita semakin melambat," jelas pengamat ekonomi Sjamsul Ridjal, dalam keterangan tertulis beberapa waktu lalu.
Menurut Sjamsul, jika situasi seperti ini berkepanjangan, efeknya akan sampai titik paling mematikan. Yakni terhentinya denyut perekonomian di semua sektor.
"Ini namanya kematian perlahan pada ekonomi. Ingat, ekonomi mati semua mati," jelas Sjamsul.
Karena itu kata Sjamsul, pemerintah harus berpikir lebih orientatif. Agar kebijakan itu tidak sekadar berorientasi pada upaya menekan pandemi. Tapi juga menyelamatkan ekonomi.
- 1
- 2
- 3
- 4
- 5
