Jalan Panjang Lisna Boroallo Mencari Keadilan: POM TNI Harusnya Bersikap Terbuka
Lisna yakin ada indikasi dugaan pembunuhan terhadap anaknya. Sehingga untuk menghilangkan jejak, sepeda motornya dihancurkan seolah kecelakaan.
MANOKWARI, PEDOMANMEDIA - Perjuangan Lisna Boroallo menguak misteri kematian anaknya begitu gigih. Anaknya, Marchxellon Vitrajaya meninggal dalam sebuah kecelakaan di Manokwari awal Oktober lalu.
Lisna adalah warga asal Toraja. Ia bermukim di Manokwari, Papua Barat dan berkarier sebagai jurnalis di sana.
Ia tengah berjuang menguak teka-teki kematian anaknya. Lisna yakin Vitra mati bukan murni kecelakaan. Kematiannya diduga ada hubungannya dengan anggota TNI yang bertabrakan dengannya. Yang waktu itu dalam kondisi mabuk.
"Bagi saya kematiannya tidak wajar. Ini bukan sekadar kecelakaan," ungkap Lisna.
Kasus ini tengah dalam penyelidikan polisi. Polisi telah memeriksa sejumlah saksi. Sementara TNI belum juga memulai penyelidikan.
"Padahal saya sangat berharap POM TNI proaktif dalam kasus ini. Karena yang terlibat dalam tabrakan yang menewaskan anak saya itu anggota TNI," terang Lisna.
Awalnya Vitra diduga meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas. Ia bertabrakan dengan pengendara sepeda motor yang merupakan anggota TNI. Namun Lisna mengungkap, banyak kejanggalan pada kematian anaknya.
Luka yang diderita Vitra tak identik dengan luka tabrakan. Luka-luka lebam di tubuhnya lebih mirip bekas pukulan benda tumpul.
Vitra ditemukan oleh teman-temannya dalam kondisi berlumuran darah. Ia sempat dilarikan ke Rumah Sakit AL. Namun nyawanya tak tertolong. Vitra dinyatakan meninggal sesampai di RS.
Kepala Satuan Lalu Lintas (Kasat Lantas) Polres Manokwari, Iptu Subhan Ohoimas mengatakan, telah memeriksa sejumlah saksi. Pemeriksaan masih akan berlanjut.
"Total 7 saksi dan 1 saksi pengendara sepeda motor. Masih ada beberapa saksi yang mau dimintai keterangan," kata Iptu Subhan Ohoimas, Senin (1/0l011/2021).
Lisna Boroallo, berharap penyelidikan polisi menemui titik terang. Ia meminta aparat yang menangani kasus ini menegakkan hukum seadil-adilnya.
"Saya berharap aturan ditegakkan sama rata. Tidak tumpul ke atas tajam ke bawah. Dan tidak ada yang kebal hukum terutama kepada pihak POM untuk segera memeriksa dan memproses anggotanya bersama beberapa anggota Lain yang berada di TKP," kata Lisna.
Lisna mengaku kecewa dengan sikap tertutup POM TNI. Menurut dia, misteri kematian anaknya menjadi sulit diungkap karena POM tidak terbuka.
"Saya menyayangkan sikap oknum salah satu Intel POM juga yang saat itu berada di TKP. Ia terkesan ikut menutupi kasus ini. Ada apa? Seorang Intel POM tega menutupi kejadian lakalantas maut dan dia lebih memilih menyelamatkan anggota TNI yang dalam kondisi mabuk ketimbang menolong korban (Vitra) yang sudah dalam kondisi sekarat saat itu," tutur Lisna.
Lisna menyebut bahwa berdasarkan keterangan warga di sekitar TKP, warga mendapati oknum Tentara yang dalam keadaan mabuk berat bersama anaknya yang sudah berlumuran darah. Diduga saat itu Vitra sudah meninggal dunia. Sementara kondisi oknum TNI saat itu masih kuat. Kata Lisna, ia masih bisa jalan ke sana ke mari.
"Pengakuan beberapa warga, tentara itu bersama rekannya mabuk berat dan mengaku tangannya sakit. Dan saya juga mendapatkan informasi dia diantar ke RSUD Manokwari oleh seorang Intel POM," jelasnya.
Lisna menceritakan, awalnya oknum TNI itu mengalami luka ringan. Namun tidak lama tentara itu kabur dari rumah sakit.
Ada dugaan, setelah mendengar informasi asal usul orangtua vitra adalah seorang wartawan dan memiliki kerabat polisi siang harinya dia masuk rumah sakit dengan kondisi tangan patah.
Lisna yakin ada indikasi dugaan pembunuhan terhadap anaknya. Sehingga untuk menghilangkan jejak, sepeda motornya dihancurkan seolah kecelakaan.
"Motor anak saya direkayasa kecelakaan. Tetapi di TKP pun tidak ada jejak kecuali jejak serpihan dan darah anak saya. Ada berapa tempat dan luka pada tubuh anak saya itu luka benda tumpul. Bukan luka kecelakaan seperti biasanya. Dan sama sekali tidak ada luka lecet bahkan di dahi kirinya ada bekas seperti jejak kepala senapan dan anak saya diduga dipindahkan berapa kali tempat karena jejak darahnya dan terakhir dia dipindahkan di tempat gelap," ujarnya Lisna sambil menitikkan air mata.
Lisna dalam upaya mencari keadilan, bukan hanya mendatangi Polres Manokwari, Ia juga menyambangi Kantor Polisi Militer (POM) Manokwari pada (21/10/2021) lalu di Jalan Merdeka Manokwari.
Sementara itu, Direktur LP3BH Manokwari, Yan Cristian Warinussy mendesak persoalan ini agar menjadi perhatian serius Pimpinan Kodam XVIII Kasuari dan Kapolda Papua Barat.
Ditemui Sabtu (30/10-2021) lalu, Yan Cristian Warinussy mengatakan dia mendukung upaya mencari keadilan dari orang tua korban.
Yan mengaku dalam kasus tersebut awalnya ia melihat ada dugaan laka lantas yang menimpa si korban
"Dari olah TKP awal ada indikasi diduga terjadi penganiayaan sebab sepeda motor yang digunakan oleh korban seperti berserakan dengan puluhan meter lalu ada beberapa elemen motor diamankan orang lain, yang setidaknya jadi saksi," tutur Yan Warinussy.
Dikatakan bahwa, ketika sudah dilakukan olah TKP awal, setidaknya polisi sudah memiliki gambaran agar kasusnya ditingkatkan dari penyelidikan ke penyidikan.
"Saya pikir ini bukan hanya ditangani Satlantas Polres, tetapi perlu melibatkan Satreskrim Polres Manokwari," ujarnya
Kasus seperti itu menurut pegiat HAM di tanah Papua, jika kejadiannya adalah kecelakaan antara dua kendaraan berlawanan arah maka tidak perlu harus didamaikan. Apalagi oknum TNI tersebut dalam keadaan mabuk dan itu sudah melanggar aturan.
"Ini kan bukan kecelakaan tunggal (Laka Tunggal) saya pikir tidak harus di damaikan. Harus proses hukum," tuturnya.
