Rabu, 11 November 2020 17:53

Broken Home, Broken People?

Ilustrasi.
Ilustrasi.

Jadikanlah broken home sebagai acuan dan semangat hidup menjadi lebih baik ke depannya untuk menjadi manusia seutuhnya, belajar menerima dan berpikir positif.

Nurul Afifah Afra Fauziah R
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (UINAM) Angkatan 2018.
Editor : Jusrianto

Hidup dalam keluarga di mana kedua orang tua tidak toleran satu sama lain bisa menjadi pengalaman yang sangat buruk. Kurangnya kasih sayang dari orang tua yang harus dimiliki sebuah keluarga, merupakan perjalanan yang tidak mudah.

Ini bisa menimbulkan dampak yang buruk, tidak hanya pada pasangan orang tua tetapi juga pada anak-anak. Menurut beberapa studi dan penelitian, mengatakan bahwa anak-anak yang hidup dalam keadaan orang tua yang berpisah atau keluarga yang berantakan (broken home) akan lebih rentan merasakan depresi dan kecemasan.

Anak-anak yang melihat orang tuanya mengalami perceraian mengembangkan perasaan sinis terhadap semua orang, yang di mana ini bisa menjadi hal yang sangat kritis bagi mereka.

Dengan begitu banyaknya kekacauan yang ada dalam hidup mereka, mereka tidak dapat berkonsentrasi dalam hal apapun dan sering menghadapi masalah Disleksia (gangguan belajar yang ditandai dengan kesulitan membaca) dan masalah mental kesehatan lainnya.

Seorang psikologis yang bernama Seema Hirongani mengakui bahwa "anak-anak dalam keluarga yang di mana orang tuanya telah berpisah atau pernikahan tanpa cinta lebih rentan mengalami depresi dan gangguan emosional. Mereka tidak hanya tumbuh dengan pola pikir yang terganggu, tetapi opini dan pendapat mereka tentang segala hal juga sangat negatif. Mereka juga memiliki masalah kepercayaan sehingga mereka bahkan tidak bisa mempercayai orang tua mereka."

Hidup di bawah trauma yang sangat emosional pada tahap awal kehidupan dapat menghancurkan secara mental. Sangat sulit untuk menanamkan perasaan cinta dan perhatian di dalamnya, tidak hanya secara emosional, tetapi prestask akademis juga sangat terpengaruh.

Seperti halnya anak-anak yang mulai hidup dalam cangkang dan berhenti mengekspresikan emosi mereka di depan siapa pun, bahkan orang yang pernah mereka percayai dalam hidup mereka.

Mereka menjadi anti-sosial, agresif dan bahkan melakukan kekerasan serta jika seseorang menawarkan mereka bantuan, mereka tidak menanggapi. Menangani situasi seperti ini bisa sangat sulit karena mereka harus ditangani dengan sangat hati-hati dan sensitif.

Beberapa dampak yang paling sering terjadi karena tidak mendapatkan lingkungan yang tepat di rumah yaitu meragukan segalanya, tidak mampu mengekspresikan emosi atau menjadi terlalu emosional, dan ditindas.

Akibatnya, di dalam diri mereka merasakan mati rasa dan akhirnya bisa mengakibatkan mereka mengambil langkah untuk melakukan bunuh diri.

Banyak stigma negatif dari masyarakat bahwa anak dari keluarga yang broken home adalah anak yang membawa pengaruh buruk bagi lingkungan sekitarnya karena mereka berpikir bahwa anak broken home anak yang tidak diurus, liar, hancur dan tidak bisa mempunyai masa depan yang cerah.

Secara tidak langsung, pandangan stigma negatif dari masyarakat itu bisa membuat mereka semakin tidak percaya diri dan menutup diri, mereka membatasi hubungan dengan siapapun, membatasi untuk berprestasi dan berkembang.

Menurut penelitian American Psychological Association, anak yang mengalami broken home lebih cenderung menunjukkan masalah-masalah perilakunya. Namun, hal itu bukan berarti semua anak broken home mengalami masalah perilaku yang dinilai buruk dan hancur.

Berdasarkan penelitian selama 20 tahun, nyatanya sekitat 80% orang-orang yang berasal dari keluarga broken home dapat beradaptasi dengan baik dan memperlihatkan efek positif dalam hal pendidikan, kehidupan sosial, dan kesehatan mental.

Pada dasarnya keluarga yang tidak utuh itu sangat berat bagi siapapun, berat bagi anak-anak maupun orang tua. Semua orang pasti berat menerima kenyataan perpisahan orang tua, keluarga yang tidak lagi utuh dan tidak harmonis. Bagi siapapun yang sedang berada dan bertumbuh dalam keluarga yang tidak utuh atau broken home, kamu tidak sendiri.

Jadikanlah broken home sebagai acuan dan semangat hidup menjadi lebih baik ke depannya untuk menjadi manusia seutuhnya, belajar menerima dan berpikir positif. Berproses menjadi manusia seutuhnya bisa dimulai dari berkegiatan positif seperti bergabung dengan komunitas/organisasi yang dapat mengembangkan diri.

Banyak hal positif yang dapat diambil dari masalah broken home ini, tergantung bagaimana cara kalian menanggapi dan menghadapi masalah ini. Jika kalian punya pendirian yang kuat, punya tujuan yang jelas dan menjaga diri dari pergaulan bebas. Maka setidaknya hal ini dapat menjamin kalian mempunyai kehidupan yang lebih baik.

Berikan Komentar Anda
Opini Terbaru
Rabu, 11 November 2020 11:45
Selasa, 06 Oktober 2020 15:06