Kamis, 14 Januari 2021 19:53

Otsus Papua Harapan Palsu

Ketua Dewan Muslim Papua Ismael Asso.
Ketua Dewan Muslim Papua Ismael Asso.

Uang Otsus yang luar biasa begitu besar saja gagal malah sebaliknya terbukti melahirkan angka kemiskinan Papua dinyatakan BPS Nasional Papua termiskin secara nasional menempati urutan nomor satu se Indonesia.

Ustadz Ismail Asso
Dewan Pembina Muslim Papua.
Editor : Jusrianto

DPR RI dan DPD RI katanya saat ini sedang berlangsung membahas UU Otsus Papua dan memasuki pembahasan soal perpanjangan Otsus Papua mau dilanjutkan.

Tapi jika tanpa evaluasi pemetaan managemen konflik maka itu sama saja artinya Pemerintah Pusat mau melanjutkan kekerasan demi kekerasan terhadap rakyat Papua dengan kepalsuan harapan mau membangun Papua aman damai sejahtera Sekalinlagi hanya utopia.

Selama akar persoalan Papua secara jujur diakui para pemangku jabatan tinggi dan tertinggi Indonesia lalu duduk bersama Tokoh-Tokoh Perwakilan Papua maka berbagai teori diajukan sebagai solusi pendekatan apapun bicara Pembangunan ekonomi kesejahteraan rasanya berhasil?

Uang Otsus yang luar biasa begitu besar saja gagal malah sebaliknya terbukti melahirkan angka kemiskinan Papua dinyatakan BPS Nasional Papua termiskin secara nasional menempati urutan nomor satu se Indonesia.

Oleh sebab itu Papua selalu dan selama tidak pernah ada kemauan politik baik dari Pemerintah Pusat maka Papua yang ada selalu konflik.

Bicara kesejahteraan dan percepatan pembangunan Papua terbukti selalu gagal sebaliknya pengangkutan kelayaan alam Papua keluar menyisakan rakyat Papua tetap miskin dan malah sebaliknya melahirkan konflik kekerasan baru dan tensi kekerasan militer terhadap rakyat Papua lebih meningkat.

Pemda Papua sebagai pengguna dana Otsus Trilyunan itu ibarat tugasnya membersihkan sampah dari dampak maslah yang tak selesai dari akar persoalan.

Keseluruhan para pemangku jabatan yang umumnya diserahkan kepada org Papua saat ini melalui semangat UU Otsus no 21 tak lebih semacam pemadam kebakaran karena itu siapapun pejabat orang Papua dillemaatis.

Justru sebaliknya bagi pejabat lain purna bertugas di Papua selalu diberi penghargaaan naik jabatan dan pangkat. Ibarat Papua itu tempat batu loncatan promosi naik jabatan dan pangkat para pejabat negara Indonesia.

Intinya persoalan Papua selama kemauan politik yang baik dari pemerintah pusat maka para pejabat Papua saat ini hanya pemadam kebakaran tak lebih.

Otsus itu suatu kebaikan yang dipaksakan (benavolance dicktatorshif), sekalipun baik dan bermanfaat bagi takyat Papua tapi pertanyaannya sejauah mana Otsus itu baik bagi rakyat Papua?

Siapa yang menikmati dan pertayaaan intinya benarkan Otsus mensejahterakan rakyat Papua? Ataukah Otsus menjawab persoalan konflik berkepanjangan Papua?

Kita terlanjur disuguhi sesuatu yang itu terbukti gagal lagi-lagi dengan iming-iming kesejahteraan pembangunan tapi benarkah Rakyat Papua sejahtera, aman damai menikmati pembangunan dalam Otsus ataukah kekerasan demi kekerasan dalam memaksakan pemaksaan keabikan itu telah menyebabkan angka kekerasan terhadap rakyat Papua lebih meningkat era Otsus?

Maksud saya apakah benar Otsus jilid dua sedang dibahas atau telah disahkan DPR atau DPD RI Jakarta tapi apakah benar Otsus Papua tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan atau kekerasan demi kekerasan terhadap rakyat Papua dan mengangkut seluruh kekayaan alam kaya raya Papua lebih cepat ataukah mensejahterakan rakyat Papua dan pembangunan rakyat lebih cepat?

Semua tergantung dari niat. Maksud tujuan Otsus Papua dilanjutkan karena dampak baik-buruk itu yang tahu hanya Pemerintah Pusat sebagai penguasa.

Nabi Muhammad SAW bersabda :

‎ٍعَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits).

Berikan Komentar Anda
Opini Terbaru
Kamis, 23 Desember 2021 17:35
Selasa, 21 Desember 2021 16:46
Senin, 26 April 2021 13:01
Jumat, 16 April 2021 13:50
Jumat, 16 April 2021 13:26