Jusrianto : Kamis, 08 Oktober 2020 16:55
Aktivis Perempuan saat melakukan orasi di depan Gedung DPRD Bulukumba

BULUKUMBA, PEDOMANMEDIA - Salah seorang Aktivis Perempuan tak sanggup menutupi rasa kesalnya terhadap pengesahan Omnibus Law UU Cipta Kerja. Arisya Arifin namanya, ia rela berpanas-panasan mengikuti aksi demonstrasi di depan Kantor DPRD Kabupaten Bulukumba, Kamis (8/10/2020).

Usai Ketua DPRD Bulukumba bersama sejumlah Anggota DPRD menanggapi aspirasi massa aksi di atas mobil truk tronton, Arisya kemudian mengambil pengeras suara sembari membakar semangat kawan-kawannya.

"Mana wakil rakyat kami. Meminta kami pulang ke daerah untuk memilih mereka," katanya dengan nada lantang.

Ia juga menegaskan kepada massa aksi untuk tetap komitmen dalam menyampaikan aspirasi masyarakat, serta tidak mudah percaya pada janji legislator tersebut.

"Buat apa janji-janji. Kami sudah bosan dengan janji. Jangan selalu di-PHP Guys. Uhh janganki," terangnya.

Sebelumnya, Ketua DPRD Bulukumba H Rijal menegaskan bahwa dirinya siap bersama rakyat menolak Omnibus Law UU cipta kerja.

"Kami secara pribadi dan seluruh rekan-rekan menolak RUU tersebut," kata Rijal di atas mobil truk tronton.

Meski begitu, Rijal meminta kepada massa aksi untuk memberikan waktu kepada pihaknya melakukan rapat bersama seluruh fraksi di DPRD Bulukumba.

"Berikan kami waktu rapat bersama fraksi untuk melahirkan rekomendasi. Besok pun saya siap terbang ke Jakarta untuk memperjuangkan aspirasi rakyat," katanya disambut tepuk tangan.

Ia menegaskan, dirinya selalu bersama rakyat dan pro rakyat.

"Kita satukan tekad untuk berjuang bersama-sama. Kami sadar kami dari rarkyat. Kami harus pro kepada rakyat," jelas Rijal.

Legislator PKS Andi Muh Ahyar juga menegaskan penolakan terhadap UU tersebut, yang telah disahkan beberapa waktu lalu.

Anggota DPRD dua periode itu, mengaku bahwa memang PKS menolak omnibus law RUU cipta kerja menjadi UU.

"Secara pribadi saya tegas menolak UU cipta erja. Saat paripuran di DPR RI, PKS all out karena tidak menerima. Dan penolakan itu mulai dari pusat hingga kabupaten," kata Ahyar.

"Saya setuju kalau kita tolak ini secara bersama-sama. Saya wakil rakyat, karena itu PKS ada di depan menolak terkait hal ini," tambahnya.

Merasa tak puas dengan janji Anggota DPRD untuk melakukan rapat fraksi, puluhan demonstran ikut mengawal rapat tersebut di ruang paripurna DPRD Bulukumba.

Al hasil, tuntutan lintas aktivis, pemuda hingga Ormas pun akhirnya dijawab oleh delapan fraksi di DPRD Kabupaten Bulukumba.