Anggaran Stunting tak Terserap 100%, Bupati Tator: Ada Masalah di Dinkes
Bupati Theo mengaku sudah memanggil kadis kesehatan soal ini. Menurutnya, memang ada sedikit problem yang harus dibenahi di dinkes.
TATOR, PEDOMANMEDIA - Kepala Dinas Kesehatan Tana Toraja Ria Minoltha Tanggo mengklaim anggaran stunting 2020 tak terserap 100%. Bupati Theofilus Allorerung menampiknya. Ia menduga ada kesalahan data.
"Mungkin salah data," ujar Bupati Tana Toraja Thefilus Allorerung dikonfirmasi, Senin (15/03/2021/) di Puskesmas Mengkendek, Kecamatan Mengkendek.
Theo mengaku sudah memanggil kadis kesehatan soal ini. Menurutnya, memang ada sedikit problem yang harus dibenahi di dinkes.
"Iya ada yang harus kita perbaiki di sana (Dinkes). Tenaga medisnya akan kita benahi ke depan. Petugasnya juga harus diperbaiki sehingga penanganan stunting di Tator bisa lebih baik," katanya.
Soal anggaran, Theo belum menerima rincian detail alasan anggaran tak terserap 100%. Ia mengaku akan mencoba meminta klarifikasi kadiskes.
"Nanti saya coba tanya apa alasannya," jelasnya.
Sementara itu Kadis Kesehatan Ria Minolhta Tanggo yang ditemui di Puskesmas Getengan, Kecamatan Mengkendek mengatakan, anggaran stunting Rp700 juta penyerapannya hanya 65%. Menurutnya, anggaran tak terserap karena kondisi pandemi.
"Itu anggaran stunting di tahun 2020 sebanyak Rp 700 juta penyerapannya hanya 65%. Makanya kegiatannya dilaksakan pada bulan 7 dan itu juga sebagian programnya bappeda," imbuhnya.
Kabupaten Tana Toraja menempati urutan terendah dalam penanganan kasus stunting di Sulawesi Selatan tahun 2020. Rendahnya efektivitas penanganan menimbulkan pertanyaan mengenai serapan anggaran.
Anggota DPRD Tator Fraksi Partai Demokrat Kristian HP Lambe mengaku kecewa dengan skema penanganan di daerah itu. Ia menilai stakeholder terkait tidak memiliki program yang efektif. Yang menyebabkan pola penanganan tidak berkelanjutan.
Ia mengatakan, stunting sangat berdampak pada rendahnya kecerdasan intelektual. Juga menurunnya kemampuan fisik pada anak dan lebih rentan terkena penyakit degeneratif seperti obesitas dan diabetes melitus. Dengan demikian akan melemahnya kualitas sumber daya manusia Toraja di masa depan.
"Kita tidak melihat ada program dari dinkes yang benar benar efektif menekan stunting. Padahal kita bisa alokasikan anggaran yang lebih besar jika programnya terarah. Tapi ini malah kita nda tahu seperti apa," paparnya.
Di era kepemimpinan Nicodemus Biringkanae-Victor Datuan Batara (NiVi), Kabupaten Tana Toraja (Tator) menjadi urutan terendah dalam penurunan kasus stunting. Hal itu berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Sulsel nomor 2342/X/2020. Di mana Tator berada di urutan terakhir dengan skor 28.
- 1
- 2
- 3
- 4
- 5
