Melihat Lagi Sektor Properti yang Masih Babak Belur karena Pandemi
Ekonomi akan membaik paling cepat pada kuartal akhir 2021. Namun itu sangat bergantung pada kebijakan multisektor.
MAKASSAR, PEDOMANMEDIA - Sektor properti belum juga membaik. Berbagai stimulus yang digulirkan tak mampu memulihkan penjualan sejak pandemi 2020.
"Properti memang butuh waktu lebih lama. Kemungkinan kita akan melihat dampaknya di akhir tahun," jelas Zaenal Abidin, konsultan properti, beberapa waktu lalu.
Menurut Zaenal, masyarakat masih memilih menahan dana mereka karena kekhawatiran akan memburuknya pandemi. Akibatnya, properti skala menengah belum dilirik.
"Tetapi masih ada harapan untuk tetap bangkit tahun ini," katanya.
Para ekonom juga meramal Indonesia akan sulit memperbaiki kinerja ekonomi hingga kuartal II. Proyeksi pertumbuhan ekonomi di atas 4% memungkinkan baru akan dicapai pada kuartal akhir 2021.
"Sulit untuk bangkit lebih cepat di kuartal II. Kita masih resisi. Kontraksi ekonomi juga masih memukul semua sektor. Jadi akan sulit untuk pulih kurang dari setahun," ujar pengamat ekonomi Sjamsul Ridjal.
Sjamsul memprediksi ekonomi akan membaik paling cepat pada kuartal akhir 2021. Namun itu sangat bergantung pada kebijakan multisektor. Kebijakan ini yang bisa mengembalikan daya beli masyarakat yang turun tajam dalam 6 bulan.
"Investasi kita melempem. Industri masih terseok-seok. Hanya sektor jasa yang sekarang sedikit tumbuh. Stimulus masih dibutuhkan," katanya.
Dikatakan Sjamsul, relaksasi pajak PPnBM dan KPR untuk sektor properti belum banyak memberi sentuhan. Ini juga butuh proses panjang. Dampaknya memungkinkan terlihat pada awal 2022.
BI memprediksi perbaikan ekonomi Indonesia sejalan dengan proyeksi perekonomian global yang juga berpotensi lebih tinggi. Hal itu terlihat dari beberapa lembaga Internasional yang telah menaikkan prediksi ekonomi global di 2021.
Misalnya IMF yang merevisi pertumbuhan ekonomi global dari 5,2% menjadi 5,5%. Juga ekonomi AS dari 3,1% menjadi 5,1%. OECD juga merevisi dari 4,2% menjadi 5,6%, serta pertumbuhan AS dari 3,2% jadi 6,5%.
