Turut Prihatin, Kabid Humas Polda Sulsel Himbau Pendaki Pahami Kondisi Pandemi
E Zulpan pun meminta para pendaki untuk memahami aturan yang ditegakkan aparat dan untuk sementara menahan ego dan keinginan mendaki gunung demi lebih peduli pada kesehatan, keselamatan dan keamanan komunitas masyarakat lokal, staf dan petugas pengelola beserta mitra dan volunteer di destinasi pendakian.
MAKASSAR, PEDOMANMEDIA - Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol E.Zulpan turut berbelasungkawa atas meninggalnya tiga pendaki gunung Bawakaraeng, masing-masing Steven (21) Mahasiswa PNUP, Zainal Abidin (21) dan Rian (20) Mahasiswa UIN Alauddin.
"Turut berduka cita atas meninggalnya korban tiga mahasiswa pendaki gunung Bawakaraeng," ujar Kombes Pol E.Zulpan, Kamis (19/2/2021).
Menurutnya, aktivitas pendakian gunung merupakan aktivitas ekstrem lantaran melalui jalur-jalur yang ekstrem. Olehnya mengapa persiapan perlu dilakukan termasuk persiapan waktu.
Kendati begitu, sangat disayangkan pendaki justru memaksakan dan tetap berangkat naik, padahal kata Zulpan mereka sudah dicegat di Pos Bulu Balea, Sabtu 14 Agustus lalu. Karena memang sudah jelas pendakian dimasa pandemi ini dilarang.
Zulpan mengatakan, sebagai pendaki gunung, tentu keinginan untuk mendaki gunung sangat tinggi. Terlebih, sudah berbulan-bulan, tidak melakukan pendakian, karena berbagai destinasi wisata alam, termasuk pendakian gunung ditutup, guna mencegah penyebaran COVID-19. Bahkan, sekedar kemping pun tidak bisa.
"Tapi bagaimanapun, hal itu dilakukan aparat pemerintah semata-mata Karena, harus memutus mata rantai penyebaran COVID-19, khususnya di Sulsel ,"kata E .Zulpan, Kamis (19/8/2021)
Lebih lanjut E .Zulpan pun meminta para pendaki untuk memahami aturan yang ditegakkan aparat dan untuk sementara menahan ego dan keinginan mendaki gunung demi lebih peduli pada kesehatan, keselamatan dan keamanan komunitas masyarakat lokal, staf dan petugas pengelola beserta mitra dan volunteer di destinasi pendakian.
Karena kesehatan, keselamatan dan keamanan mereka, kata Dia, semuanya tergantung dari pengunjung atau pendaki.
"Ingat, masing-masing dari pengunjung atau pendaki dan mereka mempunyai potensi yang sama, saling menulari dan tertular, nah kalau nanti ada lagi pendaki yang kecelakaan di puncak gunung dengan ciri-ciri menunjukkan gejala terpapar COVID-19, bagaimana penanganannya? Tentu akan merepotkan regu penyelamat dan tenaga kesehatan pastinya, apalagi lagi harus menempuh medan pendakian yang tidak mudah. Lalu, berapa banyak tim penyelamat atau petugas yang siap untuk menanganinya?," terangnya lagi.
Olehnya, kenapa aktivitas pendakian gunung tidak bisa diselenggarakan secepatnya. Apalagi dalam situasi masa pandemi COVID-19 yang hingga hari ini di Sulsel masih tinggi tingkat penyebarannya, tentu tidak bisa secara gegabah begitu saja diselenggarakan. Prinsipnya harus ada kehati-hatian.
"Bayangkan, jika, ada satu saja pengunjung atau pendaki gunung yang diketahui positif, otomatis kawasan dan kampung atau desa-desa di sekitarnya akan langsung dijaga ketat. Kemudian, dilakukan tracing, riwayat aktivitas yang positif COVID-19 tersebut selama di destinasi pendakian. Seperti, dengan siapa saja berinteraksi, sempat beristirahat di basecamp mana, makan serta minum di warung mana dan lain-lain, itukan berbahaya," pungkasnya.
