Muh. Syakir : Rabu, 04 Januari 2023 10:00
RSUD Lakipadada Tator.

TATOR, PEDOMANMEDIA – Serapan anggaran di Rumah Sakit Umum Daerah Lakipadada Tana Toraja dinilai sangat rendah. Anggaran pelatihan yang dialokasikan Rp850 juta hanya terserap Rp462 juta.

Sejumlah pihak menilai, rendahnya daya serap anggaran pelatihan menunjukkan tidak optimalnya program pengembangan SDM. Manajemen diharapkan memberi evaluasi atas capaian ini.

Ratih Ranteallo, Panitia Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) RSUD Lakipadada mengatakan, pelatihan telah dilakukan secara optimal. Ia membantah pengembangan SDM tak berjalan baik.

"Biaya makan minum peserta sebanyak Rp14 juta dari total anggaran Rp462 juta. Anggaran ini untuk meng-cover pelatihan sepanjang 2022. Biaya ini juga kita alokasikan untuk honor pemateri karena sebagian ada yang dari luar rumah sakit," terang Ratih Ranteallo, Panitia Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) RSUD Lakipadada, Selasa (03/01/2023).

Ratih memastikan bahwa peserta tak diberi honor pelatihan. Karena keterbatasan anggaran, maka honorarium pemateri juga disesuaikan dengan kemampuan keuangan.

"Jadi Rp462 juta ini item kegiatannya itu pelatihan unt auk tenaga di laboratorium ada dua orang, yang di libatkan itu dua orang saja, perangkat sendiri,” ujar Ratih.

Pelatihan berlangsung dari bulan Januari-Desember 2022. Ada sekitar 17 pelatihan dan kegiatan itu tidak hanya dilakukan di Tator, namun juga di luar Toraja.

Dikatakan Ratih, pelatihan digelar dengan waktu bervariasi. Ada yang tiga bulan, tiga hari, lima hari dan ada yang 2 hari. Semua tergantung persuratan yang masuk.

"Total peserta dari semua anggaran Rp462 juta itu adalah 669 orang,” ucapnya.

Lanjut Ratih, dari anggaran ini ada biaya registrasi. Yang semuanya diatur berdasarkan kebutuhan dan teknis.

"Biaya registrasi di tempat lain, jadi yang pergi itu ada 669 orang, yang melakukan kegiatan itu yang ada di sini itu misalnya pelatihan BTCLS mereka tidak di kasih transport, mereka pelatihan 5 hari itu di sini untuk 120 orang itu yang di biayai makan minumnya, registrasinya, team HIPGABI yang datang," jelasnya.

Adapun pematerinya adalah tim dari Himpunan Perawat Gawat Darurat dan Bencana Indonesia (HIPGABI). Pelatihan menurut Ratih sangat urgen, karena akan menentukan akreditasi ke depan.

"Jadi untuk akreditasi itu pesertanya adalah semua tenaga-tenaga kesehatan semua pegawai yang ada di rumah sakit, harus mengikuti pelatihan-pelatihan sesuai dengan standar akreditasi,” ungkap Ratih.

Untuk kelompok cleaning service, satpam sampai semua pegawai harus dibekali pelatihan tentang bantuan hidup dasar. Pelatihan untuk mereka terkait dengan kesigapan dan pengetahuan tentang pelayanan.

“Itu yang kami latih ada 200-an orang di luar tenaga Dokter dan Perawat. Jumlah tim yang diturunkan untuk melatih itu satu tim. Ada Dokter Anestesi di dalam dengan ada perawat-perawat yang sudah tersertifikasi juga," imbuhnya.

Penulis: Nober Salamba