Selasa, 19 Mei 2026 17:08

BPH Migas Ungkap Kondisi BBM Dalam Negeri: Pertalite Aman 16 Hari ke Depan

BPH Migas Ungkap Kondisi BBM Dalam Negeri: Pertalite Aman 16 Hari ke Depan

Di sektor Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), BPH Migas mencatat realisasi penerimaan hingga 17 Mei 2026 mencapai Rp 594,42 miliar.

JAKARTA, PEDOMANMEDIA - Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mengungkap kondisi ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) dalam negeri per pertengahan Mei 2026. BPH Migas menyebut, stok BBM masih aman hingga 16 hari ke depan.

“Untuk sebagai laporan, stok BBM Nasional per tanggal 18 minggu hari kemarin, bahwasannya kita sangat aman,” ujar Kepala BPH Migas Wahyudi Anas saat Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII, di Gedung Parlemen, Jakarta, Selasa (19/5).

Berdasarkan data BPH Migas per 18 Mei 2026, stok Pertalite (RON 90) tercatat mencapai 1,37 juta kiloliter (KL) atau setara ketahanan 16 hari. Sementara Pertamax (RON 92) memiliki stok 561 ribu KL dengan ketahanan 27,8 hari.

Baca Juga

Untuk Pertamax Turbo (RON 98), stok nasional mencapai 72 ribu KL dengan ketahanan hingga 61,7 hari.

“Jadi Pertalite pada posisi 16 hari, kemudian RON 92, 27,8 hari, kemudian untuk RON 98, 61,7 hari,” kata Wahyudi.

Stok solar nasional tercatat mencapai 1,57 juta KL atau setara 16,4 hari konsumsi nasional. Sedangkan Pertamina Dex memiliki ketahanan stok hingga 35 hari.

Sementara untuk avtur, stok nasional berada di level 385 ribu KL dengan ketahanan 26,6 hari. Sedangkan minyak tanah atau kerosene memiliki stok 16 ribu KL dengan ketahanan sekitar 11,8 hari.

“Avtur juga 26,6 hari, kemudian untuk kerosene 11,8 hari. Ini sangat aman, continue terjaga di level tersebut,” ungkap Wahyudi.

Meski stok nasional aman, Wahyudi mengungkapkan kuota solar subsidi masih mengalami defisit secara kumulatif sebesar 50.090 KL sejak 1 April 2026.

“Untuk minyak tanah, alhamdulillah kita masih surplus kuotanya. Dan kemudian khusus untuk minyak solar yang menjadi perhatian, memang kita sejak 1 April ini mengalami minus, dan ini secara kumulatif kita minus 50.090 KL,” ungkap Wahyudi.

Berdasarkan data capaian kinerja BPH Migas 2026, realisasi penyaluran solar subsidi telah mencapai 7,04 juta KL atau 37,8 persen dari kuota 2026 sebesar 18,63 juta KL. Sementara itu, penyaluran Pertalite masih surplus sebesar 525.646 KL dibanding kuota berjalan.

“Untuk Pertalite, alhamdulillah sangat aman, kita surplus 525.646 KL. Ini penting dan itu kita cermati bersama,” terang Wahyudi.

Selain ketahanan energi, BPH Migas juga melaporkan perkembangan program BBM Satu Harga di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Pada 2026, pemerintah menargetkan 55 lembaga penyalur baru.

“Bahwasanya tahun 2025 kita akan menargetkan 55 lembaga penyalur. Dan saat ini sudah proses pembangunan serta proses untuk perizinan, sehingga insyaallah nanti akhir tahun akan tercapai dengan baik,” jelas Wahyudi.

Dengan tambahan itu, jumlah kumulatif lembaga penyalur BBM Satu Harga ditargetkan meningkat menjadi 654 lembaga penyalur hingga akhir 2026, dari realisasi 599 lembaga penyalur pada 2025.

“Dan menambah kumulatif dari jumlah BBM satu harga yang tercapai sampai 2025, 599 lembaga penyalur akan meningkat menjadi 654 lembaga penyalur,” kata Wahyudi.

Di sektor Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), BPH Migas mencatat realisasi penerimaan hingga 17 Mei 2026 mencapai Rp 594,42 miliar atau 45,9 persen dari target tahun ini senilai Rp 1,29 triliun.

Sementara itu, realisasi iuran BBM tercatat mencapai Rp 478,83 miliar atau 46,72 persen dari target 2026 sebesar Rp 1,025 triliun. Sedangkan iuran gas bumi telah mencapai Rp 115,57 miliar atau 42,78 persen dari target Rp 270,15 miliar.

“Untuk kinerja kita, gas bumi saya pikir cukup aman dan tidak ada masalah. Khusus untuk PNBP, alhamdulillah kita juga progresnya cukup bagus,” tutur Wahyudi.

 

Editor : Muh. Syakir
#BPH Migas #BBM Subsidi
Berikan Komentar Anda